Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan

AMBAK; Apaan Itu Mbak?

Loe ngerti nggak seh, kenapa Jepang bisa maju?
Oke, sebelum loe sebutin jawabannya, baca dulu yang berikut ini!
Di negeri kita neh, kalo ada siswa ditanya kenapa hari ini belajar matematika, maka bakalan dijawab; “Ya karena hari ini hari Senin (atau menyebut hari-hari lainnya), jadwalnya matematika.”
Beda banget kalo murid-murid Jepang yang ditanya. Mereka punya jawaban yang lebih bermutu. Di antara mereka bakal ngejawab; “Saya hari ini belajar matematika karena nanti ingin menjadi tenaga ahli di bidang teknik nuklir. Nah, karena itu aku harus menguasai matematika, sebagai jalan menguasai ilmu-ilmu lainnya.”
So, orang Jepang punya tujuan yang jelas mengapa mereka mempelajari sesuatu. Karena itu mereka bersemangat. Mereka sungguh-sungguh karena apa yang dicitakannya takkan tergapai tanpa belajar. Contoh sederhananya, bila Pak Joko pengen jadi sopir taksi, maka dia akan belajar nyetir mobil sampai bisa. Iya, karena bisa nyetir itu syarat utama jadi sopir. Nggak bisa nyetir, ya nggak bakal jadi sopir.
Emang kok, dalam aktivitas apapun, mengetahui tujuan jadi kewajiban utama. Pemahaman yang benar akan tujuan yang hendak dicapai akan mampu menggairahkan dan memaksimalkan efektifitas kerja. Coba ingat kalo kamu pernah liat ibu-ibu yang lagi marah. Meski biasanya rada pendiam, ketika marah mereka bisa membanjirkan kata begitu mudahnya. Tiba-tiba saja mereka sangat cerdas mengungkap rasa. Kenapa? Karena mereka paham betul mengapa harus bicara macam-macam. Ada yang ingin disampaikan, ada yang meski diberi pemahaman, ada yang harus dirubah dan diluruskan.
Nah, kalo loe pengen sukses belajar, itu dia kuncinya; mula-mula loe kudu temuin tujuannya. Loe mesti paham untuk apa belajar sesuatu. Makanya loe mesti bertanya dulu pada diri sendiri befor belajar. Dalam bahasanya Bobbi DePoter dan Mike Hernacki di buku Quantum Learning, loe mesti bertanya dulu tetang AMBAK. Apaan itu Mbak?
Nah, AMBAK itu singkatan dari Apa Manfaatnya Bagiku? Jadi, sebelum belajar matematika misalnya, kita harus menanyakan pada diri sendiri; Apa manfaatnya bagiku belajar matematika? Semakin banyak kamu bisa menemukan manfaat-manfaat itu, semakin tinggi nilai guna yang akan kamu peroleh. Insya Allah kamu juga bakal semangat untuk belajar. Itu berlaku ketika kita mau belajar apa aja. So, kenapa negeri Jepang maju?

AHa! Asah Hati

Loe pernah merasa hidup ini gak berarti, seakan semua sia-sia n’ tiada guna? Pokoknya nonsen semua. Habis itu loe jadi males ngapa-ngapain; males belajar, males bekerja, males beribadah, males keluar rumah, males nyuci, males mandi, males gosok gigi (idih, bau tau!). Jadinya futur, alias full tidur.
Ato loe merasa semuanya bikin BT. Di rumah loe BeTe ama petuah-petuah orang tua. "Dasar crewet" pikir loe. Di sekolah loe muak dengan pelajaran matematika. Apa lagi ketika mau pulang guru loe ngasih PR yang jumlahnya luar biasa. Udah gitu temen-temen loe sikapnya juga terasa gak ngenakin. Bahkan sahabat deket loe ikut-ikutan bikin pengen muntah. Brengksek!
Eh, kok jadi marah. STOP. Bila itu yang terjadi, loe kudu cepet-cepet benahin diri. Apa yang mesti dibenahi? Jawabannya; HATI. Kok hati?
Iya, karena semua bersumber dari hati. Ingat hadits Rasul kita tercinta? Bila hati baik, maka baiklah diri kita. Sebaliknya, bila hati buruk, maka buruk juga diri kita. Nah bila kita lagi futur (berhenti dari aktifitas kebaikan) ato BeTe melulu, berarti ada yang salah pada hati. Lagi buruk tuh. Biasanya sih karena lagi banyak dosa n’ maksiatnya. So, mesti cepet-cepet berhenti berbuat dosa n’ say good bye ama maksiat.
Tapi apakah dosaku?
Ah, gak perlu bertanya pada orang lain, bila mau jujur terhadap diri sendiri, maka segunung dosa bakal kita temukan. Dan dosa itu milik kita seluruhnya. Coba deh ingat n’ teliti apa saja yang sudah kamu ucapkan hari ini, dari bangun tidur subuh tadi sampai saat ini. Bersihkah dari dosa? Yakin deh, kamu bakal ngejawab; tidak. Setelah diteliti…, ternyata ada cerita bohongnya, ada ngomongin jelek-jeleknya orang, ada kata-kata jorok n’ kasar, ada ungkapan kesombongan, ada marah-marah yang bukan pada tempatnya, dan sebagainya dan sebagainya. Bukankan semua itu dosa?
Itu baru soal omongan, dosanya udah segunung. Kalo kita teliti seluruh aktifitas kita seharian, maka dosa yang ditemuin bisa bergunung-gunung, berapi lagi. Mesti hati-hati dunk, ntar meletus kan gaswat dasrurat (Canda loh!). Tapi beneran gaswat, kalo dosa udah bergunung-gunung, hati kita bisa tumpul. Bila udah tumpul, jadinya ya susah dapat hidayah. Dengerin bacaan al-Qur’an gak ada pengaruhnya, shalat jadi susah konsen, dikasih nasihat orang malah marah-marah, giliran ditawarin makanan langsung dihabisin (itu mah tandanya kelaparan).
Biar hati kita gak tumpul kaya gitu, ya kudu dibersihin n’ diasah lagi. Loe tahu kan caranya? Cara ngebersihin hati dari balutan dosa ya taubatan nasuha. Berhenti berbut dosa, menyesali sedalam-dalamnya, berjanji gak akan mengulangi lagi. Sedang cara mengasahnya tiada lain dengan takwa yang sebenar-benar takwa. Isi hidup ini dengan amal-amal utama. Hiasi diri dengan akhlak mulia. Oke ya!
abcs