Kata


Kominikasi. Selalu saja komunikasi. Kupikir, aku telah banyak belajar. Nyatanya belum. Sedikit sekali yang aku mengerti.
Kata
Kata
Kata-kata
Betapa mudah kata-kata membuat luka. Bahkan kata-kata tanpa suara. Pun nyaring terdengar, menusuk-nusuk jantung. Lebih tajam dari belati yang baru diasah.
Kata-kata, seorang novelis atau puitikus akan mampu menyusunnya dengan indah, menyentuh hati. Akan tetapi dalam dunia nyata, menyusun kata-kata ternyata tak mudah.
Kata-kata, terkedang menggaung, terkadang menggema. Sekali salah berkata-kata, gaungnya memekakkan telinga. Gemanya kembali, menghujam si pemilik kata.

Hem, aku jadi sulit berkata-kata, seperti lagu yang begitu saja tercipta

Aku tak bisa bicara
Aku tak sanggup berkata
Kar’na kata-kataku ‘kan buatmu luka

Tuhan, beri kami cinta
Cinta yang sembuhkan luka
Kar’na aku hanya si pembawa luka
Kar’na aku hanya sang pembawa luka

Maafkanku cinta
‘ku hanya manusia
Bisa juga terluka
Meski ‘ku yang berdosa
Aku tak kuasa

Berguru Pada Guru


Kusadari bahwa aku bukan orang yang pandai berbakti kepada guru. Jangankan membalas jasa-jasa mereka yang tak bertanda, mengingat wajah-wajah dan nama-nama mereka saja begitu sulit. Benar, aku sudah lupa sebagian besar nama-nama mereka yang pernah resmi menjadi guruku. Aku hanya mampu mengingat guru-guru yang kuanggap unik atau spesial.
Misalnya, guru yang, hem.... cantik. Bila kebanyakan guru sudah menjelang pensiun, sementara ada satu guru yang muda dan cantik, tentu aku akan lebih mudah mengingatnya. Seperti Bu Haryanti di SD N Baturono 1, Salam, Magelang. Entah saat ini, dua puluh tahun sejak aku mengenalnya sebagai bu guru, apakah masih cantik juga. Yang pasti takkan lagi muda. Ah, apa kabar beliau?
Sekali lagi, tak banyak yang dapat kuingat. Malah seringkali aku mengingat nama guruku karena keunikan-keunikan tertentu yang tak bisa dibilang 'positif.' Seperti Bu Bariyah, juga di SD N Baturono 1. Masih cukup jelas di benakku, beliau mutasi ke SD N Baturono 1 beberapa saat setelah aku pindah juga ke SD itu. Horor, kesan utamaku terhadap beliau. Apa lagi bila sudah mengadakan ulangan..., menyeramkan bagiku. Bagaimana tidak, jawaban kurang titik di belakang tulisan sudah pasti dianggap salah. Kalau pada setiap jawaban lupa memberi titik, ya salah semua, nilainya nol. Karena kesan horor ini, malah terkadang teman-teman menambahkan kata 'jalan' setelah nama panggilannya, Bu Bar. Bubar jalan!
Di SMP Negeri Ngluwar ada Bu Siti Sundari. Bu guru yang satu ini telah mengenaliku sejak permulaan aku masuk SMP. Itu karena dua kakakku yang pinta-pintar pernah juga sekolah di situ. Sayangnya beliau sering lupa namaku, maka aku sering dipanggilnya 'Mas Adiknya Supriyadi.' Maklum lah, waktu itu aku tak sepintar dan setenar dua kakakku.
Kesanku terhadap Bu Sundari mirip dengan Bu Bariyah, horor. Hanya karena Bu Sundari sering memperhatikanku, maka aku lebih menyukainya. Guru sejarah ini, tiap kali habis mengajar selalu saja mengadakan ulangan. Iya, setiap kali pertemuan. Maka setiap siswa harus benar-benar memperhatikan apa yang disampaikannya, kecuali mau dapat nilai jelek. Satu yang sangat kuingat, pernah aku mencontek, lalu ketahuan. Bu Sundari tak menegurku secara langsung, hanya menyindir saja. Begitu pun aku sudah panas dingin. Jelas sekali beliau menyindirku. Biasanya kalau ada yang ketahuan mencontek langsung dilabrak.
Ah, tetap saja, kesan horor lebih melekat di benakku. Maka aku juga lebih mengingatnya sebagai bundari. Itu panggilan singkatnya, Bu nDari. Ah, maafkan, anakmu yang tak berbakti ini...
Oh iya, masih ada juga yang sangat kuingat dari SMP Negeri Ngluwar. Namanya Bu Agnes Monica. Eh, maksud saya Monica saja, tanpa Agnes. Mengapa aku masih ingat nama bu guru biologi ini? Karena waktu itu masih muda... dan cantik. Tentu saja, masih ada nama-nama lain yang kuingat, seperti Pak Daladi, Pak Martono atau Pak Bahrudin. Akan tetapi belum kuingat hal-hal khusus yang menarik untuk dituliskan tentang mereka.
Di SMK Negeri 1 Tempel, beberapa nama guru juga masih kuingat. Ada Pak Parpun Ismoyo, guru mata pelajaran Pemasaran. Di kelas dua, pertama kali siswa jurusan Manajemen Bisnis mendapat pelajaran Pemasaran, pasti akan mengenal beliau sebagai guru yang angker. Beliau sangat tegas. Kalau ada yang terlambat selalu disuruh menunggu di luar, setelah satu jam pelajaran berlalu baru boleh masuk. Aku pernah pula telat sekali.
Pertama kali ulangan, nilai teman-teman hancur. Ada yang dapat nilai tiga, dua, satu, bahkan nol. Untunglah, nilaiku paling moncer, delapan. Memang, saat itu aku telah menjadi 'anak emas' di jurusan Manajemen Bisnis. He, nyombong sedikit.
Makin lama, kesan horor terhadap Pak Parpun pasti akan berkurang. Dari segi pembelajaran, teman-teman juga sudah mampu menyesuaikan diri. Di kelas tiga, sudah banyak yang mendapat nilai delapan, sembilan, bahkan sepuluh ketika ulangan. Selain karena teman-teman sudah bisa menebak-nebak soal yang akan keluar, juga karena mereka sudah lihai mencontek.
Dari SMK ini, aku juga masih ingat Pak Baginda. Ada singkatan A.H. Di depan nama itu. Dalam hal ini aku sudah lupa, kepanjangan dari apakah itu. Pak guru yang satu ini juga sangat unik. Beliau biasanya hanya mengajar selama 15 menit. Paling panjang 30 menit. Setelah itu diam saja di tempat dudunya. Anak juga diam, lama-lama ngobrol, lalu rada gaduh. Sampai jam pelajaran berakhir Pak Baginda akan terus duduk di bangku guru. Apapun yang dilakukan anak-anak, no comment deh.
Satu lagi keunikannya, kalau bikin soal ulangan catur wulan, jawabannya selalu zigzag. Misalnya jawaban nomor satu b, nomor dua c, nomor tiga d nomor empat c lagi, nomor lima b, nomor eman a, nomor tujuh b lagi..., begitu seterusnya, sampai nomor terakhir. Jadi, kalau muridnya pintar sedikit, ya tinggil ngurutin saja. Ketemu baris pertama, beres.
Satu hal yang positif, aku kagum karena beliau menyusun sendiri buku ajarnya. Dalam buku Dasar-dasar Asuransi yang menjadi pegangan kami, tertoreh nama A.H. Baginda sebagai penulisnya. Pastilah, beliau memperoleh keuntungan dari setiap buku yang terjual, setiap tahun. Pasalnya setiap siswa harus punya buku pegangan. Untuk pelajaran Asuransi, tak ada cara lain selain membeli buku yang disusun Pak Baginda tersebut.
Sementara itu ada satu guru yang benar-benar masih kuingat secara positif. Bu Tini, wali kelasku di SMK N 1 Tempel. Beliau tegas, sekilas agak horor, tapi terlihat jelas kecintaan beliau terhadap murid-muridnya. Di kelas beliau mengajar akuntansi. Uniknya, kami tak pernah diperbolehkan menggunakan kalkulator. Bahkan ketika mengerjakan laporan akuntansi, seperti Neraca, Laporan Rugi Laba dan sebagainya, kami juga harus menghitungnya secara manual.
Setelah lulus, beberapa kali aku sempat mampir ke rumah beliau. Dari dorongan beliau, aku punya tekad lebih kuat untuk bisa kuliah. Dan setelah kuliah, bahkan setelah lulus kuliah, aku juga masih sempat main ke rumah Bu Tini. Aku cukup banyak mendapat wejangan di situ. Seingatku, hanya ke rumah Bu Tini-lah aku pernah sengaja bersilaturahim. Ke rumah guru-guruku yang lain rasanya tak pernah.
Satu lagi yang sangat kuhafal dari SMK N 1 Tempel, Bu Hanik Rosyada. Selain karena waktu itu masih muda dan cantik (he, peace Bu...), juga karena aku menemukan nama beliau di Facebook. Jarang-jarang kutemui nama guruku di FB. Semoga Allah memberi banyak kemudahan dan kemanfaatan bagi guru-guru yang masih berekenan menyempatkan diri FB-an.
Ah, sekali lagi, aku bukan orang yang berbakti kepada guru. Maka bagi guru-guruku yang barangkali sempat membaca tulisan ini, mohon maafkan aku... Tulisan ini sama sekali bukan untuk memperlihatkan ’kekurangan-kekurangan’, apa lagi sekedar olok-olok. Hanya berharap, semoga ada khikmah yang dapat dipetik. Bila ada keburukan dan kekurangan tersirat, semoga menjadi pelajaran bagi guru-guru yang lain seperti saya, agar tak melakukan hal serupa. Sekali lagi, mohon maaf atas segala khilaf.
Doaku, semoga segala amal baik akan mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semoga ilmunya barakah dan semoga senantiasanya diberikan kemudahan hidup, baik di dunia fana ini, lebih-lebih di akhirat nanti.
Hem... hari ini, anak-anak SDIT Buah Hati juga mengenalku sebagai pak guru. Dua puluh tahun mendatang, entah, adakah satu dua di antara mereka yang masih mengenangku. Dan bila ada, entah kesan seperti apa yang mereka kenang dariku. Tentu saja, aku ingin mereka semua mengingatku dari sisi positif, sebagaimana Andrea Hirata mengenang Bu Muslimah. Syukur-syukur ada yang menyebut-nyebut namaku dalam novelnya yang best seller. He he.

Memberi Itu Ternyata Nikmat


Peminta-minta, rasanya semakin banyak saja. Bahkan di kota kecilku ini. Setrateginya rupa-rupa, tetapi motif utamanya sama, meminta. Sebagian mungkin benar-benar terpaksa. Akan tetapi sebagian lainnya, aku yakin banyak jumlahnya, telah menjadikan meminta-minta sebagai pekerjaan. Ah, na’udzubillahi min dzaalik.
Ketika datang seorang peminta-minta pada kita, terkadang sulit membedakan, orang itu kepepet, atau pekerjaan utamanya memang menengadahkan tangan. Mungkin ketularan istri, menghadapi peminta-minta yang menyodorkan tangan di jalan, di bus atau di alon-alon, aku lebih sering melambakan tangan, alias tak memberi.
Terkadang ada rasa tak enak hati juga. Rasanya jadi orang kok terlalu pelit. Dimintai betul-betul tapi malah tak memberi. Padahal seribu rupiah cukup untuk membuat orang itu berterima kasih dan segera berlalu. Tapi di sisi lain, aku juga sering berpikir, kalau orang-orang seperti itu terus ditolelir dan diberi, maka peminta-minta akan benar-benar terus menjamur. Toh yang meminta-minta seringkali terlihat fisiknya masih kokok dan bugar.
Lain halnya bila si peminta memiliki kekurangan fisik, seperti tak mampu melihat atau tak memiliki sepasang kaki. Dalam hal ini, hatiku masih lebih dapat mentolelir. Mereka mengingatkanku untuk banyak-banyak bersyukur kepada Allah. Maka, sekedar ber-dada ketika mereka menjulurkan tangan rasanya terlalu. Meski tentu saja, aku lebih salut pada orang-orang yang memiliki kekurangan fisik, tapi tetap bekerja dan sukses.
Ah, bila peminta-minta memang semakin banyak, mungkin solusinya adalah kebalikannya, memberi. Iya, perbanyak memberi, sehingga tiada lagi orang yang sempat meminta. Tentu saja, maksudku bukan hanya memberi uang receh ketika diminta. Akan tetapi memberi dalam arti lebih luas. Memberi pemahaman, memberi semangat, memberi harapan, memberi peluang usaha, memberi pekerjaan, syukur-syukur juga memberi modal.
Memberi itu nikmat. Akhir-akhir ini aku baru merasakannya. Terlambat sekali mungkin, karena belum lama aku berniat dan tergerak untuk selalu menyisihkan penghasilan bulanan untuk orang yang berhak. Shadaqah acak, itu yang kemudian aku lakukan. Aku menyisihkan sebagaian penghasilan, lalu memberikan uang itu secara acak. Seperti kepada tukang becak yang sedang ngetem di pinggir jalan. Pokoknya ketika bertemu orang yang kira-kira membutuhkan dan layak diberi, kasih saja. Jadi semacam uang kaget dalam jumlah kecil. Aku belum tahu, secara fiqih kontemporer, shadaqah macam ini bagus apa tidak. Yang jelas, aku berharap pahala dan balasan dari Allah.
Rupanya ada kenikmatan tersendiri ketika aku dapat memberi. Menerima ucapan terima kasih dan senyum gembira dari seorang tukang becak misalnya, hati jadi terasa lapang. Bahkan ketika seseorang yang diberi ternyata tidak menunjukkan sikap ramah dan terima kasih, hanya bilang “ya,” tetap saja hati ini bahagia. Apa yang tadi ada pada genggaman telah berpindah kepada orang yang berhak.
Malah, ketika sejumlah uang tertentu yang tak seberapa itu masih ada di tas, atau saku celanaku rasanya tidak enak. Ini hak orang lain, aku harus segera menemukan orang itu. Dan ketika uang itu telah berpindah tangan, lepaslah sudah..., lega.
Iya, dapat memberi itu ternyata nikmat. Pasti jauh sekali bedanya dengan meminta. Bahkan tanpa mengingat bahwa Allah akan mengganti dengan balasan yang berlipat ganda, memberi akan selalu mendatangkan rasa nikmat di hati kita. Mudah-mudahan saja, Allah senantiasa memberi kelapangan rezki, sehingga tangan kita lebih sering di atas. Dan yang terpenting, kita bisa ikhlas dan tergerak untuk memberi dengan sebaik-baik pemberian. Semoga, Allah juga senantiasa melimpahi kita rasa nikmat. Nikmat karena dapat memberi. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Semoga, tulisan ini tak menggusur keikhlasanku, hanya ingin berbagi, bahwa memberi itu ternyata nikmat.

Pulang


Bila Bulan Ramadhan hendak berlalu, segera saja radio dan televisi menyiarkan berita yang menjadi hangat; arus mudik. Apa lagi bila Lebaran tinggal beberapa hari lagi, arus mudik semakin memenuhi ruang berita.
Mudik merupakan fenomena yang cukup unik di Indonesia. Mayoritas perantau pulang ke kampung halaman masing-masing pada moment ’Idul Fitri ini. Begitupun orang-orang yang sudah tinggal di luar kampung halamannya. Mereka berduyun pulang ke tempat kelahiran.
Tak peduli berapa biaya yang diperlukan, tak malas karena libur yang hanya beberapa hari, tak enggan berebut tiket, tak merasa benci karena harus berdesakan di bus atau kereta, juga tak takut ketika harus naik motor boncengan dari Jakarta ke Surabaya. Pokoknya mudik harus diusahakan. Mudik seakan telah menjadi kewajiban atau paling tidak amalan sunnah muakad. Ada kesedihan merasuk hati, kalau tak bisa ikut mudik Lebaran tahun ini.
Tahun ini adalah pertama kalinya Maman ikut merasakan mudik. Pada Lebaran kali ini, Maman dan istrinya merencanakan untuk shalat ’Idul Fitri di kampung halaman istri. Karena ini Lebaran pertama yang akan mereka jalani bersama, Maman harus ikut syawalan keluarga besar istrinya. Oleh itu mereka  hendak ke pulang ke orang tua Maman pada H+1. Saat keputusan itu mereka ambil, ada rasa yang merasuk dada Maman. Sedih, ingin rasanya mudik sebelum tanggal 1 Syawal.
Saat kepulangan memang selalu dinanti. Lihatlah anak kecil yang diajak bepergian. Apa yang dia pinta? Selain jajan, biasanya adalah pulang. “Ma, pulang ma! Sekarang ma!” Malah Maman pernah bercerita tentang Si Acim, salah satu keponakannya ketika merengek minta pulang ke Jogja pada abi-nya. Saat itu malam hari di sebuah kampung dekat jalur utama Pantura, rumah mertua Maman. “Bi, pulang bi!” Si abi yang juga kakak Maman itu pun memberi kalimat negosiasi; “Ya besok ya kalau sudah pagi.” Namun Acim tak menyerah; “Sekarang bi, pulang bi!” Kata abi-nya lagi; “Iya besok, sekarang nggak ada mobil!” Dengan enteng Acim pun membalas; “Naik motor!”
Jangankan anak kecil, manusia dewasa saja sering sangat merindukan pulang. Bahkan bukan hanya orang-orang seperti kita yang selalu rindu pulang, Rasulullah dan para shahabat pun rindu pulang ke kampung halaman. Bilal yang begitu teguh melawan derita di Mekah, harus melantunkan baris-baris puisi sendu ketika harus berhijrah ke Madinah. Padahal baru sesaat Bilal meningalkannya. Padalah, negeri yang ditinggalkannya itu telah menggoreskan seribu luka.
O, betapa haruskah
Kulalui malam ini pada lembah
Yang tiada padanya Idzkir
Dan tiada pula Jalil”
Seribu kenangan tentang kampung halaman tersusun rapi dalam benak kita. Pada saat-saat tertentu, kenangan itu berhamburan dan membuat kita terhanyut. Kemudian tertawa, haru, atau sendu....
Betapapun pahit kehidupan yang pernah dilalui, kampung halaman selalu menumbuhkan pohon rindu. Apa lagi bila keluarga dan kerabat masih tinggal di sana. Maka Ebit pun bersenandung. “Aku ingin pulang. Aku harus pulang. Aku ingin pulang. Aku harus  pulang.”
Kampung halaman dan rumah sendiri adalah tempat yang selalu memberi ketenangan. Kesejukan. Betapapun nikmat dan fasilitas yang didapat di luar sana, kepulangan selalu menjadi saat yang paling dinanti. Maka tak heran kalau ungkapan “home sweet home” begitu populer. Selain itu kita juga sangat akrab dengan ungkapan “Baiti jannati” , “Rumahku Surgaku.”
Ada kerinduan yang jauh lebih besar semestinya dimiliki oleh setiap muslim. Rindu kampung Surga. Kata para ulama, rumah kita yang sebenarnya bukan di sini, di dunia ini. Rumah kita sesungguhnya ada di Surga. Maka, perjalanan hidup ini adalah perjalanan pulang ke Surga. Di Surga nanti, kita akan berkumpul kembali dengan saudara-saudara yang benar-benar saudara. Bukan saudara yang hanya di mata, sementara hatinya penuh benci. Bukan pula saudara yang jelas-jelas meneriakkan permusuhan terhadap kita. Saudara di Surga adalah saudara tanpa dengki, tanpa iri,  tanpa sikap menjilat, tanpa kebencian dan tanpa permusuhan. Saudara di Surga adalah saudara penuh cinta, saudara dalam arti sesungguhnya.... Tidakkah kau rindu untuk segera ke sana?
Ternyata ungkapan itu benar. Rumahku Surgaku. Ya, rumahku Surgaku, karena rumahku yang sesungguhnya ada di Surga.
Karen itu sahabat, mari kita lakukan yang terbaik untuk perjalanan pulang ini. Alangkah ruginya bila seseorang baru tiba di rumah sesungguhnya setelah tersesat ke neraka. Lebih-lebih, alangkah ruginya orang yang tak pernah sampai kembali ke rumahnya, di Surga sana.
Sahabat, selamat menempuh perjalanan pulang. Semoga kau akan segera menemukan kebahagiaan hidupmu di rumah yang sesungguhnya. Semoga segera kau dapati kebahagiaan abadi di Surga sana.
Maaf, tadi bukan doa agar kau cepat mati loh!

Aku Bukan Guru, Hanya Teman Bermain


Menyaksikan SID the Science Kid, film pendek berseri hadiah dari Dancow membuatku berpikir; keren sekali kalau benar-benar ada sekolah semacam itu.
Di sekolah khayali itu, anak-anak hanya bermain sesuka hati, tapi banyak ilmu yeng mereka serap. Mereka diberi kebebasan untuk bereksplorasi, bertanya tentang apa saja yang ingin diketahui, lalu berusaha mencari jawabannya sendiri. Guru hanya mengarahkan dan memberi kesimpulan.
Untuk mengetahui satu hal, anak-anak cerdas di sekolah itu selalu belajar berpindah-pindah. Dari ruang kelas, ke ruang laboratorium, lalu keluar ke laboritorium alam, lalu kembali ke kelas. Terakhir, guru bernyanyi. Bukan sembarang lagu, tapi nyanyian yang berkait erat dengan apa yang sedang mereka pelajari.
Ah, teringat aku ketika jiwa sedang lelah. Bentak-bentak anak, tapi yang dibentak gak ngerti-ngerti juga. Sudah tahu guru sedang marah besar, bersuara keras dan mata melotot, tapi yang dipelototi justru tertawa. Lalu kuteriaki lagi, baru ngeh, lalu diam. Aku lanjutkan mengajar. Baru beberapa detik saja, anak yang tadi kupelototi sudah berdiri, lari-lari, bermain lagi...
Ah, marah memang sama sekali bukan cara tepat untuk mendidik.
Ketika pun harus marah, mestinya adalah marah cinta. Marah benar-benar karena ingin memberi pemahaman, bukan hanya karena dibuat repot oleh ulah mereka. Maka dalam marah yang demikian, aku lebih memilih diam sesaat, lalu mengeluarkan amarah dari hati, ke hati. Tak perlu membentak, tak perlu melotot, apa lagi memukul. Anak-anak pun diam mendengarkan, tak berani macam-macam. Tapi juga entahlah. Apakah yang aku sampaikan dapat tersimpan pada jiwa mereka?
Yang demikian memang tak sering terjadi, dan mudah-mudahan takkan menjadi sering. Sejujurnya, aku lebih suka bermain-main dengan mereka, anak-anakku yang lucu, lugu... dan kadang pengen aku "gigit" semua....
Tak pernah terbanyang dulu, bahwa pada namaku akan tersemat status guru, sebagaimana tak juga pernah terbayang bahwa aku dapat mengaku seorang PENULIS.
 Sejujurnya, mungkin setatus guru tak layak buatku. Pertama, mula-mula masuk SDIT Buah Hati Pemalang, aku hanya dilamar jadi TU. Tapi karena masih pula butuh guru, tak berapa lama kemudian aku pun disuruh mengajar. Mulai dari TIK; Teknologi Informasi dan Komunikasi, ekskul jurnalistik, ekskul pramuka, hingga tahfidz al-Qur’an. Kadang-kadang ikut pula njebur saat anak-anak belajar renang.
Kedua, gelar S.Pd hingga saat ini belum kupunya. Rasanya memang tak ingin punya. Meski teman-teman sekantor yang belum punya S.Pd kini pada kuliah lagi. Aku kok pengennya S2. Semoga, suatu saat...
Ketiga, itu tadi, aku lebih suka bermain-main dengan mereka dari pada mengajar.
Pernah engkau melihat ada guru yang ketika masuk kelas langsung dikeroyok peserta didiknya? Baru saja masuk anak langsung menyerbu, menubruk. Ada yang naik meja, lalu meloncat, juga menubruk gurunya. Kalau keteranganku ini agak sulit engkau mengerti, bolehlah engkau bayangkan adegan smack down. Cukup mirip lah, gurunya di KO. Nah, aku pernah menyaksikan yang demikian itu. Mala akulah yang sedang di-smack donw.
Dengan gaya yang aneh-aneh, akupun sering membuat anak-anak GERR... Aku senang. Sungguh lebih nikmat melihat mereka tertawa lepas dari pada mengurus anak yang menangis, merengek tak jelas.
Tak hanya di kelas. Ketika anak-anak bermain, kadang aku nimbrung. Anak-anak main loncat tali, aku ikut loncat. Anak-anak main bola, aku ikut menendang. Anak ngajak main tertentu, aku layani. Misalnya ketika ada yang mengajak pandeng-pandengan (tatap-tatapan), yang kedip kalah. Aku layani saja dengan perubahan aturan, yang senyum kalah......
Spontan, spontan, spontan Yang satu ini insya Allah dapat membangun kedekatan dengan anak-anak.
Ah, masih banyak sekali kekurangan. Aku belum bisa benar-benar menjadi teman bermain mereka. Teman bermain yang profesional, produktif dan mencerahkan. Apa lagi menjadi guru. Apa lagi menjadi pendidik.
Maafkan aku, teman-teman bermainku...
Mungkin inilah saatnya. Saatnya Belajar jadi GURU Sejati.

Akhir Ramadhan Bagi Bu Endang

Di samping mempersiapkan kebutuhan lebaran, sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan adalah waktu untuk terus-menerus memperbanyak amal. Begitu pula yang di lakukan Bu Endang. Satu hal yang tak pernah dilupakanya; bersedekah. Kepada ibu asli dan ibu mertuanya Bu Endang selalu mengirimkan sejumlah belanjaan. Isinya biasanya berupa kue-kue untuk lebaran ditambah selendang.

Ini mungkin sebuah pemandangan biasa. Banyak orang yang memberi lebih kepada orang tua mereka. Yang tak biasa, Bu Endang tak hanya memberikan belanjaan itu kepada orang tuanya. Menjelang lebaran, minimal enam keluarga mengisi daftar untuk Bu Endang untuk dikirim belanjaan. Dua yang tadi sudah disebut. Dua lagi bude (adik dari ibu aslinya), satu kakak, dan satunya lagi kakak dari suaminya. Seringkali beberapa pihak lain juga mendapat jatah.

Ketika ibu kandung dan ibu mertuanya telah meninggal, Bu Endang tetap meneruskan kebiasaannya kepada beberapa pihak lain yang tadi disebut. Kirimannya hampir selalu sama; kue lebaran di tambah selendang, sarung atau pakaian lainnya. Meski Bu Endang sendiri jarang sekali membeli pakaian baru untuk dirinya. Kalau waktu lebaran Bu Endang mengenakan setelah kebaya baru, paling-paling hadiah dari tempat belanja langganannya.

Untuk ukuran seorang ibu yang tinggal di kampung tertinggal, penghasilan Bu Endang tidaklah banyak. Dari jualan sayur dan kebutuhan sehari-hari, hasil Bu Endang itu barangkali tak lebih dari sepuluh ribu setiap harinya. Sedang suaminya yang tak lagi bekerja. Karena bukan pensiunan, suaminya tentu juga tak lagi memberi nafkah. Bila dihitung-hitung, kebutuhan untuk memberikan belanjaan untuk satu pihak jelas berkali lipat dari hasil dagangnya setiap hari. Hanya saja, Bu Endang masih merasa lebih beruntung secara ekonomi dari pihak-pihak yang disedekahinya minimal setahun sekali itu.

Bu Endang selalu mengajak anak bungsunya yang masih kecil ketika mengantarkan sendiri belanjaan-belanjaan sedekah itu. Ketika Maman, anak bungsunya itu telah menginjak usia SD, dialah yang bertugas untuk mengantar belanjaan itu kepada semua yang berhak. Biasa; Mbak Kromo dan Mbak Somo yang tinggal sendirian, Mbak Karto, Mbah Towi, Bu Diyah dan Bu Roijah. Semua mendapat jatah yang hampir sama.

Kebiasaan itu berlangsung terus. Ketika si Maman telah lulus kuliah, ia masih sempat mengantarkan sedekah yang hampir sama titipan emaknya. Meski kini tinggal tiga pihak yang tersisa, karena tiga lainnya telah meninggal. Tapi tentu, di luar nama-nama wajib tersebut, masih ada pihak-pihak lain yang mendapat jatah sedekah Bu Endang.

Ini hanya satu sepenggal kisah dari seorang ibu di sebuah kampung kecil. Di samping itu tentu lebih banyak lagi kedermawanan Bu Endang, yang tak terkisahkan. Beruntunglah saya mendapat pelajaran ini, karena Bu Endang yang saya ceritakan adalah ibu kandung saya. Sedang si Maman, tentulah saya sendiri.

Tina & Bapaknya


“Lihat tuh..! kikiki...”
“Wakakak...”
Teman-temanku ikut tertawa ketika kutunjuk si Tina. Anak manja itu seperti biasa, diantar bapaknya ke sekolah pakai motor. Kayak anak SD aja. Tapi bukan itu yang membuat kami tertawa. Bapaknya tidak cukup mengentar si Tina sampai depan gerbang sekolah, tapi sampai depan kelas. Turun dari motor, Tina mengandeng tangan bapaknya erat-erat. Lucu sekali. Kalau saja umurnya tidak kelihatan beda tiga puluhan tahun, anak-beranak itu pasti dikira sepasang kekasih. Atau kalau saja tidak di sekolahan, barang kali orang akan mengira kalau si Tina adalah anak nakal yang mau saja diajak ke mana-mana sama om om.
Nyatanya itu si Tina dengan bapaknya..., lucu sekali.
Iya, Tina memang lucu. Lucunya lagi dia bisa jadi sahabat baikku. Kok bisa ya? Kadang aku berpikir begitu. Aku ini bisa dibilang rada tomboy dan urakan. Pokoknya 180% kalau dibandingin sama si Tina. Apa lagi dalam urusan yang tadi. Ah, nggak mungkin banget aku bakal kayak si Tina. Gandengin bapakku ke mana-mana? Ih, amit-amit.
Sebenarnya Tina anaknya sangat baik. Dia peduli dengan masalah-masalah yang sedang dihadapi teman-temannya. Maka meski aneh, terutama dalam hal gandeng-gandeng tangan bapaknya itu, si Tina tetap punya banyak sahabat. Malah aku sendiri adalah sahabat terdekatnya.
Di samping itu, Tina anak yang berprestasi. Juara di kelasku. Kalau ada PR, Tinalah rujukan pertama untuk dimintai contekan.., hehe. Terutama PR matematika. Sebenarnya bukan contekan sih. Soalnya kalau ada yang mau mencontek PRnya, Tina selalu memastikan anak itu paham dulu. Dia terangkan dulu cara mengerjakan PR itu sejelas-jelasnya – macam bu guru saja – baru boleh dicontek. Mungkin rada soksokan, tapi memang berguna. Minimal anak-anak macam diriku yang anti matematika begini jadi ngerti dikit.
Yang paling tidak kumengerti adalah hubungan Tina dengan bapaknya itu. Mirip betul sepasang kekasih. Sebenarnya aku sering risih. Saat pulang sekolah, kami lagi jalan bareng, tiba-tiba muncul bapaknya..., langsung deh Tina cium tangan terus gandengan sama bapaknya itu.
“Sampai ketemu besok ya...,” begitu saja, terus ngacir sama bapaknya.
Dalam hal ini, Tina memang anak yang aneh. Aku benar-benar tak mengerti. Hingga suatu hari...
Aku tak mengerti. Tina yang kehilangan, tapi hatiku iku teriris-iris. Air mataku tak terbendung, tumpah. Surat ijin tidak berangkat dari Tina sampai ke sekolah, dengan catatan, bapaknya meninggal dunia sebab serangan jantung.
Allah...
Aku tahu betapa Tina mencintai bapaknya. Dia nomor satu dalam hal ini. Dan kini bapaknya pergi... Betapa Tina pasti sangat kehilangan. Aku tak tahu, kenapa jadi ingin melihat sahabatku itu menggandeng tangan bapaknya lagi...
Aku... Betapa aku tidak berbakti kepada ayahku. Memikirkannya saja jarang sekali. Astaghfirullahal’adzim...
 
abcs