Terkenang Aku.... (Bukan Untuk Menyerah)


Bila Orang-orang Piawai Gagal, berulang kali telah kubaca buku ini. Membaca kisah orang-orang yang pernah gagal, bangkit dan kemudian sukses selalu membuatku termotivasi. Akan tetapi, rupanya tak mudah. Iya, sama sekali tak mudah, ketika kegagalan itu giliran menghampiri diri.
Demi membuka Rental komputer, patungan dengan kakak, aku korbakan pekerjaanku. Dengan penuh optimisme aku mengundurkan diri dari perusahaan. Melupakan gaji bulanan, untuk meraih penghasilan yang lebih besar dari wiraswasta.
Karena kakak tak meninggalkan pekerjaan lamanya, maka akulah pemeran utama di rental komputer. Sepanjang hari aku berada di rental komputer, menanti orang-orang yang datang untuk mengetik atau minta diketikan. Tak tanggung-tanggung jam kerjaku, dua kali lipat dari jam kerja standar. Aku membuka rental komputer jam tujuh pagi, tutup jam sebelas malam. Iya, enam belas jam dalam sehari. Tak ada pergantian sip, karena aku memang bekerja sendiri. Sesekali saja kakakku datang dan membantu.
Akan tetapi, kesuksesan rupanya belum berpihak padaku, juga pada kakakku. Selama beberapa bulan, rental komputer itu masih saja sepi pengunjung. Pemasukan hanya cukup untuk membayar listrik setelah kuambil untuk beli maka setiap hari. Bila terus begini, aku takut, usaha ini akan cepat tamat. Aku dan kakak tak lagi punya tabungan, setelah uang kami ludes untuk beli komputer dan membayar sewa tempat usaha. Bila telah jatuh tempo, kami takkan mampu memperpanjang kontrak sewa tempat.
Dan benar, hingga setahun berjalan, usaha rental komputer kami tak memberikan peningkatan pendapatan yang signifikan. Kami bangkrut. Rental komputer harus kami tutup.
Betapa.... Setahun aku memenjara diri di rental komputer. Dari bangun tidur hingga tidur lagi. Bergelut dengan tulisan-tulisan yang harus diketik, juga komputer yang lagi-lagi kena virus dan minta diinstal ulang. Semua itu hanya kulalui untuk memperoleh luka dan perih.
Betapa... Pagi itu seorang mahasiswi minta diketikan makalah. Sorenya akan diambil. Untuk memberi pelayanan maksimal pada pelanggan, biasanya pesanan ketikan aku print setelah pemiliknya datang. Barangkali ada bagian-bagian yang hendak dirubah atau dibetulkan. Begitupun kali ini. Makalah telah selesai aku ketik, tinggal diprint ketika mahasiswi itu datang. Akan tetapi, hingga maghrib, mahasiswi itu tak datang. Hingga isyak, belum datang juga dan bahkan sampai rental aku tutup, mahasiswi itu tak datang.
Esok pagi, belum juga jam tujuh, ketika kubuka pintu untuk mendapatkan udara segar, mahasiswi itu muncul. Aku mempersilahkannya masuk, lalu kuhidupkan komputer. Tahu makalahnya belum aku print, mahasiswa itu marah besar. ”Belum diprint?! Sudah, tidak jadi saja!” bentaknya. Mahasiswi itu berlalu, meninggalkan mahakalahnya dan lubang di hatiku. Betapa aku terluka. Berniat memberi pelayanan terbaik, malah begini jadinya. Lelahku sama sekali tak dibayar, justru diganjar umpatan. Betapa...
Untunglah, di samping kegagalan yang menyayat, Allah juga mengaruniaku pengobat luka. Selain menjaga rental kamputer, aku menulis buku. Dua buku pertamaku telah terbit, kutulis saat di rental. Hal ini cukup membuatku bangga, meski royalti dari dua buku tersebut juga telah ludes untuk bayar hutang.
Setelah rental komputer benar-benar tutup, beberapa bulan aku menganggur. Aku coba melamar kerja, tapi gagal dan gagal lagi. Hingga aku bertemu Firman, seorang sahabat yang aku kenal karena sering bertemu ketika mengikuti kajian Minggu pagi di Masjid Syuhada Jogjakarta. Dia bilang mau main ke Bandung. Dia mengajakku ikut serta. Sekalian mencari kerja di sana, bujuknya. Benar, akhirnya aku ikut ke Bandung dengan beberapa fotocopy ijazah untuk melamar kerja, juga naskah buku yang siap untuk diterbitkan.
Beruntung, ketika mengantarkan naskah buku ke penerbit Percikan Iman, aku mendapat informasi bahwa lini majalah di perusahaan tersebut sedang membuka lowongan kerja sebagai wartawan. Maka di hari berikutnya, aku masukkan juga lamaran kerja.
Setelah bosan, seminggu lebih keliling Bandung, aku pamit pada Firman untuk pulang. Kutinggalkan dia di Bandung. Firman sebenarnya asli Tasikmalaya, tapi banyak kerabat di Bandung. Selama di Bandung, aku dan Firman menginap di rumah sepupu Firman yang kebetulan tak ditempati.
Seminggu kemudian aku dibel dari Bandung. Panggilan untuk mengikuti tes seleksi menjadi wartawan majalah Percikan Iman. Maka dengan penuh semangat, menjelang waktunya aku berangkat lagi ke Bandung. Kali ini naik kereta, ekonomi pula, biar irit.
Tes seleksi itu kujalani dengan mudah. Aku optimis diterima. Ada tiga macam tes yang diberikan. Yang pertama, soal-soal pilihan ganda yang campur-campur, dari Bahasa Indonesia sampai Bahasa Inggris, mulai dari jurnalisme hingga soal agama. Bentuk tes kedua, kami diminta membuat sepuluh pertanyaan yang paling urgen untuk ditanyakan apabila bertemu dengan seorang tokoh yang terkenal di Bandung. Sedang bentuk tes ketiga, kami diminta memberikan komentar tentang penggalan film yang telah diputar, tentu dalam bentuk tulisan. Film itu kesukaanku, bintangnya Jacky Chen.
Aku merasa tak ada kesulitan berarti mengerjakan tiga macam tes tersebut. Aku semakin optimis. Peserta tes hanya sebelas, akan diterima dua. Peluangku cukup besar. Belum lagi, aku yakin, di antara peserta tes, hanya aku yang telah menulis buku. Pihak Percikan Iman pun telah mengetahui kualifikasiku ini. Portofolio yang sangat mendukung profesi kewartawanan.  
Usai tes, pimred majalah Percikan Imam memberikan keterangan, bahwa peserta tes yang diterima akan dihubungi langsung via telepon dalam satu minggu ke depan. Dia menerengkankan, kemungkinan besar orang yang diterima akan dihubungi pada tanggal 5 Maret, tepat semingguh setelah hari ini. Bila tak ada yang menghubungi, berarti tak diterima.
Hingga tanggal empat, masih tak ada telepon dari Bandung. Tapi tak masalah. Masih ada waktu sehari. Tanggal limanya, aku bersantai, tak banyak aktifitas yang kulakukan. Malah aktifitas utamaku hanyalah menungguh telepon dari Bandung. Tak lupa, ketika mentari mulai meninggi, aku pun shalat dhuha, agar dilapangkan rezki.
Aku menunggu dan terus menunggu. Resah, penasaran. Aku tak tahan. Maka kuhubungi saja pimred majalah tersebut. Aku sudah mencatat nomornya. Alhamdulillah, masih ada peluang. “Belum diputuskan mas,” katanya. “Ini sedang kami rapatkan. Kalau Mas Rahman diterima, insya Allah nanti segera kami kabari.”
Aku kembali menunggu, ditemani resah yang semakin meraja. Sore pun menjelang, aku mulai ragu. Optimismeku luntur. Waktu ashar telah berlalu, kemudian datang Maghrib, lalu isyak. Tak ada telepon dari Bandung dan takkan ada lagi telepon dari kantor majalah Percikan Iman tersebut. Ternyata kali ini aku gagal.
Sebagai pelipur lara, kunyanyikan lagu ciptaan sahabatku:

Putus asa itu hal yang biasa
Tapi jangan dirawat lama-lama
Karena bisa melemahkan jiwa
Jadinya batin sendiri tersiksa

Sakit memang rasanya kegagalan
Sakitnya bukan main menyesatkan
Tapi bukan berarti beralasan
Menghukum diri sebagai orang gagal

Keluh kesah itu sifat manusia
Di kala sempit menghimpit nafas di dada
Tapi bila giliran lapang yang datang, tiba-tiba manusia sombong
Apabila memanjakan perasaan, jadinya badan dan batin kurus kerontang
Lebih baik mencoba untuk mencinta
Penderitaan

Derita itu mematangkan jiwa
Pribadipun menjadi lebih dewasa
Tapi itu tak pada semua orang
Hanya pada yang rindu pengalaman

Bagaimanapun. Aku harus bangkit kembali, karena hidup bukan untuk menyerah pada kegagalan. Kuyakin, jalan sukses membentang. Maju terus!!

Mudah Tapi Susah


Mudah tapi susah, bayak hal masuk kategori ini. Seperti kata cinta. Mengucapkan kata cinta tentu saja mudah, semudah mengucap kata-kata lainnya. But, dalam ruang-ruang keluarga, seringkali satu kata itu pun susah dikeluarkan. Seorang istri harus menangis-nangis menunggu kata cinta dari suaminya. Ya, tak jarang seorang suami sulit berkata cinta pada istri sendiri. Padahal jelas-jelas dia cinta. Tapi untuk  mengungkapkannya dengan kata-kata, ah susah. Ada saja yang membuat lidah menjadi kaku dan kelu.
Iya, Mudah tapi susah, banyak hal masuk kategori ini. Seperti juga senyuman terhadap saudara kita. Tersenyum itu mudah, semudah menarik dua bibir kita ke samping kanan dan kiri. Dan kita tahu, senyum tulus kita terhadap saudara sesama muslim akan mendatangkan pahala. Lagi pula banyak manfaatnya. Bagi diri, senyuman akan menghadirkan energi positif, suasana nyaman dan rasa optimis. Bagi orang lain, senyuman mendatangkan kenyamanan, keteduhan dan rasa persahabatan. Komunikasi pun dapat terjalin dengan baik, dihias senyuman. Tapi itu tadi, seringkali, yang mudah itu menjadi susah. Bibir jadi tak mudah tergerak ke samping, malah ke depan, manyun. Apa lagi bila sedang ada masalah, susah.
Mudah tapi susah. Memang, banyak hal masuk kategori ini. Seperti menahan diri untuk tidak mengungkap keburukan dan kekurangan orang lain. Mudah, semudah kita untuk diam, tidak bicara, tidak menggerakkan bibir dan lidah. Nyatanya hal ini seringkali menjadi susah. Betapa mulut manusia seringkali gatil bila belum membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain. Mulut sulit ditahan untuk membuka dan menutup. Klimat demi kalimat pun membanjir, tentang aib orang lain. Bahkan bila keburukan dan kekurangan orang lain itu sebenarnya sifatnya masih dugaan. Diduga dia begini dan begitu, yang jelek-jelek. Manusia-manusai ini lupa bahwa mereka sedang berbuat keji. Iya, keji, sekeji memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati. Hiii..., ngeri.
Mudah tapi susah. Sekali lagi, memang banyak hal masuk kategori ini. Seperti menahan diri untuk tidak menulis setatus di FB atau ngetwit dengan tulisan-tulisan galau, atau tulisan-tulisan yang jelas tiada mendatangkan kebaikan. Jelas-jelas tidak jelas. Mudah, tinggal tidak usah menulis saja. Nyatanya jadi susah. Pikiran, perasaan dan tangan begitu mudah terdorong untuk menulis. Menulis yang tidak jelas. Asal. Malah tulisan galau. Tanpa sadar, bahwa kalau toh tidak mendatangkan dosa, setidaknya tulisan itu sia-sia. Tiada manfaatnya. Belum lagi bila ternyata, tulisan-tulisan itu menunjukkan bahwa diri kita kurang bersyukur atas nikmat Allah. Menunjukkan bahwa kita orang yang tidak jelas, tak punya visi dan mimpi yang menjulang. Atau setidaknya, menunjukkan bahwa kita sedang terlena, lupa.
Masih banyak lagi perkara-perkara yang sejatinya mudah tetapi menjadi susah. Barangkali karena tidak kokohnya jiwa, keruhnya hati. Hingga hal-hal yang semestinya sangat mudah menjadi sulit kita lakukan. Maka, mari terus-menerus benahi diri. Mudah-mudahan saja, dalam hal semacam itu kita dapat fokus pada kata ‘mudah’ dan menjauh dari kata ‘susah.’ Iya, tidak udah susah-susah, dibuat mudah saja.

Bermimpilah!


“Jika kalian memohon kepada Allah, mohonlah kepada-Nya Jannatul Firdaus yang paling tinggi, karena sesungguhnya di sanalah intinya Surga.”(HR Thabrani)

Amirul Mukminin Umar bin Khattab pada suatu ketika meminta para sahabat untuk mengungapkan cinta-cita mereka. “Bercita-citalah kalian!” Seorang sahabat kemudian menyahut: “Aku ingin sekali seluruh bangunan ini terisi emas yang aku infakkan di jalan Allah. Umar berkata lagi: “Bercita-citalah kalian!” Seseorang mengatakan: Aku ingin ruangan ini penuh dengan permata dan mutiara yang bisa aku infakkan di jalan Allah.” Umar berkata: “Bercita-citalah lagi.” Mereka mengatakan: “Kami tidak tahu lagi apa yang bisa kami cita-citakan selain itu ya Amirul Mukmini. Umar lalu berkata: “Aku bercita-cita kalau ruangan ini penuh didatangi orang-orang besar antara lain seperti Abu Ubaidah, sehinga aku bisa berjihad di jalan Allah bersama mereka.”
Orang besar selalu punya mimpi besar. Iya, karena sebagaimana pepatah Arab, kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin. Haqaiq al yaum, umniyyat al ams. Orang-orang besar telah membuktikan ungkapan ini.
Engkau kenal Muhammad al-Fatih? Dialah penakluk Konstantinopel yang menjadi salah satu bukti kebenaran Rasulullah itu. Tidaklah mudah menaklukkan kota Konstantinopel. Pada masa Khalifah pertama Bani Umayyah, kota ini pernah coba ditaklukkan, tetapi gagal. Bayazid Yildrim, penakluk negeri Eropa juga hampir menguasai Konstantinopel. Namun gagal karena kekalahannya oleh Taimerlance (Timur Leng), seorang penakluk lain. Ya, tidak mudah menaklukkan Konstantinopel, karena waktu itu dijaga pasukan gabungan dari Eropa Timur dan Selatan.
Tentu bukan sembarang orang dapat menaklukkan kota bersejarah itu. Muhammad al-Fatih benar-benar orang yang tangguh. Asal engkau tahu saja, Muhammad al-Fatih telah memiliki cita-cita untuk menaklukkan kota itu sedari masih kecil. Ia telah terdidik oleh orang tuanya dalam berjuang. Muhammad al-Fatih kecil sering terilibat dalam pertempuran, sehingga ia tahu bagaimana perang itu sejatinya. Gurunya, Syamsuddin, pernah mengajaknya berjalan-jalan di tepi pantai dan menunjukkan benteng Konstantinopel. “Itulah benteng konstantinopel yang pernah diberitakan Rasulullah akan ditaklukkan oleh salah seorang umatnya bersama pasukan kaum muslimin, sampai akhirnya penduduknya memeluk agama tauhid.” Sejak itulah Muhammad al-Fatih bertekad untuk menaklukkan Konstantinopel. Kita tahu, mimpinya kemudian menjadi nyata. Konstantinopel telah takluk oleh Muhammad al-Fatih dan pasukannya.
Satu riwayat lagi. Suatu kali Abdullah bin Umar, Urwah bin Zubair, Mush’ab bin Zubair, Abdul Malik bin Marwan yang merupakan generasi Tabi’in sedang duduk-duduk di pelataran Ka’bah. Mush’ab mengangkat pembicaraan dengan mengatakan: “Bercita-citalah kalian.”
Para sahabat masih enggan menyampaikan cita-cita mereka, hingga Mush’ab diminta untuk menyampaikan cita-citanya pertama kali. “Mulailah dari dirimu.” Ujar mereka. Mush’ab pun menjawab: “Aku ingin kaum Muslimin dapat menaklukkan wilayah Irak, aku ingin menikahi Sakinan puteri perempuan Husein dan Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah.” Beberapa tahun ke depan, Mush’ab berhasil meraih apa yang dicita-citakannya.
Urwah bin Zubair lalu mengungapkan keinginannya. Ia berkata bahwa dirinya ingin menguasai ilmu fiqh dan hadits. Urwah kemudian dikenal menjadi salah satu tokoh ulama fiqh dan banyak meriwayakan hadits.
Abdullah Malik bin Marwan tak mau ketinggalan. Ia mengatakan bahwa ingin menjadi khalifah. Kelak ia dilantik menjadi khalifah pada masa Daulah Umawiyah. Ia bukan hanya khalifah yang memiliki ilmu luas dan banyak beribadah, tapi juga tokoh yang berhasil menyatukan kembali wilayah kekhalifahan sepeninggal dua putera Zubair bin Awan. Ia juga menjadi perintis system post, menerjemahkan banyak kitab dan membuat uang logam dari emas.
Nah yang terakhir, Abdullah bin Umar juga menegaskan cita-citanya. Ia ingin masuk Surga.
Bermimpilah, karena orang yang kehilangan mimpi akan hilang semangat, lalu tiada lagi prestasi. Kau pernah baca novel “Sang Pemimpi” dari tetralogi “Laskar Pelangi”nya Andrea Hirata? Ketika mimpi untuk terbang meneruskan pendidikannya di Paris melemah, prestasi Ikal terpuruk. Ikal, satu dari tokoh utama dalam novel itu terpaksan menempatkan ayahnya pada bangku nomor 75. Padahal sebelunya duduk di bangku nomor 3. Bangku-bangku tersebut telah diberi nomor urut sesuai rengking anaknya di sekolah. Namun cinta pada sang ayah telah mengembalikan mimpinya, hingga Ikal dapat menempuh pascasarjana di Univesité de Paris, Sorbonne, Prancis.
Nah, bila engkau juga ingin menjadi orang besar, maka bermimpilah. Hanya orang yang punya mimpi layak menyandang gelar kebesaran. Lagipulah Rasulullah telah memberi perintah: “Jika kalian memohon kepada Allah, mohonlah kepada-Nya Jannatul Firdaus yang paling tinggi, karena sesungguhnya di sanalah intinya Surga.”
Mengapa kita perlu mimpi? Banyak yang menjadi alasan. Dia antaranya mimpi akan mengembalikan semangat ketika kita menjadi lemah dan larut dalam perbuatan sia-sia. Bila punya mimpi jadi ulama besar, mana boleh tidak belajar. Bila mimpi jadi pengusaha sukses, mana boleh menganggur. Bila punya mimpi masuk Surga Firdaus, mana bisa malas beribadah dan suka berbuat dosa.
Selanjutnya mimpi akan mengarahkan hidup kita. Bila bercita menjadi dokter, maka engkau akan kuliah pada fakultas kedokteran. Salah jurusan bila kau kuliah di fakultas ekonomi. Sebaliknya, bila kau ingin jadi akuntan, tak mungkin kau kuliah di fakultas kedokteran.
Mimpi juga akan memaksa diri kita agar tidak terjebak pada rutinitas dan kemapanan. Jadi pegawai tetap pada salah satu Bank Nasional tentu memperoleh gaji yang lumayan. Orang kebanyakan akan menganggap pekerjaannya itu cukup prestisius. Akan tetapi bila punya mimpi menjadi pengusaha sukses di bidang penerbitan, maka orang itu takkan selamanya kerja di bank. Ia akan mengundurkan diri, lalu merintis bisnisnya dari awal. Itu bila ia punya keberanian untuk mengejar mimpi.
Maka, insya Allah dengan bermimpi kita akan meraih yang terbaik dalam hidup ini. Kita tak berhenti ketika mencapai posisi tertentu. Setiap satu mimpi menjadi realita, kita masih memiliki mimpi yang lebih membumbung. Maka kita harus terus berjuang, agar semua mpimpi menjadi nyata. Kalau pun ada yang belum terwujud ketika nyawa telah meninggalkan pergi dari jasad, tak ada ruginya punya mimpi. Minimal, mimpi yang kita bangun telah memotivasi kita untuk bekerja dan melakukan yang terbaik.

Rekening Emosi


Iman, semangat, kesabaran, dan segala sifat positif yang kita miliki tak bisa selalu berada dalam kondisi paling prima. Ada kalanya naik, sesekali turun pula. Maka sesabar-sabar kita menjalani aktifitas sebagai guru, ada kalanya dibuat jengkel pula oleh ulah anak didik. Bila kondisi hati sedang menurun, sementara polah anak mulai tak bisa ditolerir, terkadang otak secara otomatis memerintahkan mulut untuk berteriak, marah.
Dalam kondisi seperti itu, hanya guru yang kuatlah akan tetap mampu memberikan teladan yang baik. Kuat, bukan dari segi fisik, otot yang tebal dan mampu mengangkat beban berat, melainkan seperti disampaikan Rasulullah. Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari)
Nah, kita harus terus belajar agar menjadi guru yang kuat, guru yang tetap memiliki jiwanya ketika marah, terkendali ketika emosi meluap. Dengan begitu, ketika marah pun kita tetap mampu mengisyaratkan cinta, menunjukkan kasih sayang. Tidak meledak-ledak dengan semburan kata-kata pedas.
Lebih dari itu, satu hal menarik saya temui di buku The Relationship Cure oleh John M. Gottman, Ph.D dan asistennya, Hoan De Claire. Mereka menuturkan tentang 'rekening emosi'. Simpelnya begini. Bila kita telah menabung emosi-emosi positif pada jiwa sesorang, hal ini akan sangat membantu terjaganya hubungan ketika terjadi konflik.
Misalnya dua orang kawan yang biasa saling bercanda, tertawa bersama-sama. Ketika mereka berkonflik, barangkali di antaranya kan berpikir; "Saat ini aku memang jengkel sekali terhadapnya, tapi toh dia teman yang selalu membuatku tertawa. Kurasa aku harus berusaha mengerti dirinya."
Hal ini tentu berlaku juga untuk hubungan guru dan anak didik. Maka, kita harus memperbanyak tabungan emosi positif pada rekening perasaan di jiwa anak. Kemauan untuk bercanda, memberi sentuhan fisik juga sentuhan-sentuhan qalbu terhadap anak didik, insya Allah dapat mengurangi dampak buruk ketika suatu saat kita terpaksa marah. Justru bila terbiasa sabar, bisa bercanda dan berdekat-dekat dengan anak, marah kita akan lebih bertenaga, insya Allah. Kadang tak perlu teriakan, sorot mata yang berbeda dari biasanya sudah cukup untuk menunjukkan kemarahan.
Teringat aku ketika masih menjabat kepengurusan di Jama'ah Fatahillah, Lembaga Dakwah Kampus di STIS Yogyakarta. Di sebuah rapat aku pernah marah. Sehabis itu sedikit gempar dalam lingkup sahabat-sahabat dekatku. Beberapa sahabat yang kebetulan tak hadir pada rapat itu justru penasaran. Pengen melihat Rahman marah, kata mereka. Ah, ada-ada saja. Intinya, ketika tak biasa terlihat marah, dapat menjadi perhatian tersendiri ketika hal itu ternyata terjadi.
Kembali ke rekening emosi. Mari kita ciptakan kedekatan dengan anak didik. Kita usahakan sebanyak-banyak pencitraan positif terhadap mereka. Kita perbanyak tabungan emosi positif pada rekening perasaan di jiwa anak. Dengan demikian, nasihat yang kita berikan tak menjadi beban untuk didengar, juga dilaksanakan. Larangan yang kita berikan pun lebih mudah untuk dituruti. Juga tadi, ketika suatu saat kita berkonflik dengan anak tertentu, akibat negatifnya dapat diminimalisir.
Insya Allah anak akan mengerti, bahwa ketika kita marah misalnya, bukan berarti kita membencinya, akan tetapi justru merupakan ungkapan sayang. Ungkapan sayang yang diberikan tidak seperti biasanya.

Kata


Kominikasi. Selalu saja komunikasi. Kupikir, aku telah banyak belajar. Nyatanya belum. Sedikit sekali yang aku mengerti.
Kata
Kata
Kata-kata
Betapa mudah kata-kata membuat luka. Bahkan kata-kata tanpa suara. Pun nyaring terdengar, menusuk-nusuk jantung. Lebih tajam dari belati yang baru diasah.
Kata-kata, seorang novelis atau puitikus akan mampu menyusunnya dengan indah, menyentuh hati. Akan tetapi dalam dunia nyata, menyusun kata-kata ternyata tak mudah.
Kata-kata, terkedang menggaung, terkadang menggema. Sekali salah berkata-kata, gaungnya memekakkan telinga. Gemanya kembali, menghujam si pemilik kata.

Hem, aku jadi sulit berkata-kata, seperti lagu yang begitu saja tercipta

Aku tak bisa bicara
Aku tak sanggup berkata
Kar’na kata-kataku ‘kan buatmu luka

Tuhan, beri kami cinta
Cinta yang sembuhkan luka
Kar’na aku hanya si pembawa luka
Kar’na aku hanya sang pembawa luka

Maafkanku cinta
‘ku hanya manusia
Bisa juga terluka
Meski ‘ku yang berdosa
Aku tak kuasa

Berguru Pada Guru


Kusadari bahwa aku bukan orang yang pandai berbakti kepada guru. Jangankan membalas jasa-jasa mereka yang tak bertanda, mengingat wajah-wajah dan nama-nama mereka saja begitu sulit. Benar, aku sudah lupa sebagian besar nama-nama mereka yang pernah resmi menjadi guruku. Aku hanya mampu mengingat guru-guru yang kuanggap unik atau spesial.
Misalnya, guru yang, hem.... cantik. Bila kebanyakan guru sudah menjelang pensiun, sementara ada satu guru yang muda dan cantik, tentu aku akan lebih mudah mengingatnya. Seperti Bu Haryanti di SD N Baturono 1, Salam, Magelang. Entah saat ini, dua puluh tahun sejak aku mengenalnya sebagai bu guru, apakah masih cantik juga. Yang pasti takkan lagi muda. Ah, apa kabar beliau?
Sekali lagi, tak banyak yang dapat kuingat. Malah seringkali aku mengingat nama guruku karena keunikan-keunikan tertentu yang tak bisa dibilang 'positif.' Seperti Bu Bariyah, juga di SD N Baturono 1. Masih cukup jelas di benakku, beliau mutasi ke SD N Baturono 1 beberapa saat setelah aku pindah juga ke SD itu. Horor, kesan utamaku terhadap beliau. Apa lagi bila sudah mengadakan ulangan..., menyeramkan bagiku. Bagaimana tidak, jawaban kurang titik di belakang tulisan sudah pasti dianggap salah. Kalau pada setiap jawaban lupa memberi titik, ya salah semua, nilainya nol. Karena kesan horor ini, malah terkadang teman-teman menambahkan kata 'jalan' setelah nama panggilannya, Bu Bar. Bubar jalan!
Di SMP Negeri Ngluwar ada Bu Siti Sundari. Bu guru yang satu ini telah mengenaliku sejak permulaan aku masuk SMP. Itu karena dua kakakku yang pinta-pintar pernah juga sekolah di situ. Sayangnya beliau sering lupa namaku, maka aku sering dipanggilnya 'Mas Adiknya Supriyadi.' Maklum lah, waktu itu aku tak sepintar dan setenar dua kakakku.
Kesanku terhadap Bu Sundari mirip dengan Bu Bariyah, horor. Hanya karena Bu Sundari sering memperhatikanku, maka aku lebih menyukainya. Guru sejarah ini, tiap kali habis mengajar selalu saja mengadakan ulangan. Iya, setiap kali pertemuan. Maka setiap siswa harus benar-benar memperhatikan apa yang disampaikannya, kecuali mau dapat nilai jelek. Satu yang sangat kuingat, pernah aku mencontek, lalu ketahuan. Bu Sundari tak menegurku secara langsung, hanya menyindir saja. Begitu pun aku sudah panas dingin. Jelas sekali beliau menyindirku. Biasanya kalau ada yang ketahuan mencontek langsung dilabrak.
Ah, tetap saja, kesan horor lebih melekat di benakku. Maka aku juga lebih mengingatnya sebagai bundari. Itu panggilan singkatnya, Bu nDari. Ah, maafkan, anakmu yang tak berbakti ini...
Oh iya, masih ada juga yang sangat kuingat dari SMP Negeri Ngluwar. Namanya Bu Agnes Monica. Eh, maksud saya Monica saja, tanpa Agnes. Mengapa aku masih ingat nama bu guru biologi ini? Karena waktu itu masih muda... dan cantik. Tentu saja, masih ada nama-nama lain yang kuingat, seperti Pak Daladi, Pak Martono atau Pak Bahrudin. Akan tetapi belum kuingat hal-hal khusus yang menarik untuk dituliskan tentang mereka.
Di SMK Negeri 1 Tempel, beberapa nama guru juga masih kuingat. Ada Pak Parpun Ismoyo, guru mata pelajaran Pemasaran. Di kelas dua, pertama kali siswa jurusan Manajemen Bisnis mendapat pelajaran Pemasaran, pasti akan mengenal beliau sebagai guru yang angker. Beliau sangat tegas. Kalau ada yang terlambat selalu disuruh menunggu di luar, setelah satu jam pelajaran berlalu baru boleh masuk. Aku pernah pula telat sekali.
Pertama kali ulangan, nilai teman-teman hancur. Ada yang dapat nilai tiga, dua, satu, bahkan nol. Untunglah, nilaiku paling moncer, delapan. Memang, saat itu aku telah menjadi 'anak emas' di jurusan Manajemen Bisnis. He, nyombong sedikit.
Makin lama, kesan horor terhadap Pak Parpun pasti akan berkurang. Dari segi pembelajaran, teman-teman juga sudah mampu menyesuaikan diri. Di kelas tiga, sudah banyak yang mendapat nilai delapan, sembilan, bahkan sepuluh ketika ulangan. Selain karena teman-teman sudah bisa menebak-nebak soal yang akan keluar, juga karena mereka sudah lihai mencontek.
Dari SMK ini, aku juga masih ingat Pak Baginda. Ada singkatan A.H. Di depan nama itu. Dalam hal ini aku sudah lupa, kepanjangan dari apakah itu. Pak guru yang satu ini juga sangat unik. Beliau biasanya hanya mengajar selama 15 menit. Paling panjang 30 menit. Setelah itu diam saja di tempat dudunya. Anak juga diam, lama-lama ngobrol, lalu rada gaduh. Sampai jam pelajaran berakhir Pak Baginda akan terus duduk di bangku guru. Apapun yang dilakukan anak-anak, no comment deh.
Satu lagi keunikannya, kalau bikin soal ulangan catur wulan, jawabannya selalu zigzag. Misalnya jawaban nomor satu b, nomor dua c, nomor tiga d nomor empat c lagi, nomor lima b, nomor eman a, nomor tujuh b lagi..., begitu seterusnya, sampai nomor terakhir. Jadi, kalau muridnya pintar sedikit, ya tinggil ngurutin saja. Ketemu baris pertama, beres.
Satu hal yang positif, aku kagum karena beliau menyusun sendiri buku ajarnya. Dalam buku Dasar-dasar Asuransi yang menjadi pegangan kami, tertoreh nama A.H. Baginda sebagai penulisnya. Pastilah, beliau memperoleh keuntungan dari setiap buku yang terjual, setiap tahun. Pasalnya setiap siswa harus punya buku pegangan. Untuk pelajaran Asuransi, tak ada cara lain selain membeli buku yang disusun Pak Baginda tersebut.
Sementara itu ada satu guru yang benar-benar masih kuingat secara positif. Bu Tini, wali kelasku di SMK N 1 Tempel. Beliau tegas, sekilas agak horor, tapi terlihat jelas kecintaan beliau terhadap murid-muridnya. Di kelas beliau mengajar akuntansi. Uniknya, kami tak pernah diperbolehkan menggunakan kalkulator. Bahkan ketika mengerjakan laporan akuntansi, seperti Neraca, Laporan Rugi Laba dan sebagainya, kami juga harus menghitungnya secara manual.
Setelah lulus, beberapa kali aku sempat mampir ke rumah beliau. Dari dorongan beliau, aku punya tekad lebih kuat untuk bisa kuliah. Dan setelah kuliah, bahkan setelah lulus kuliah, aku juga masih sempat main ke rumah Bu Tini. Aku cukup banyak mendapat wejangan di situ. Seingatku, hanya ke rumah Bu Tini-lah aku pernah sengaja bersilaturahim. Ke rumah guru-guruku yang lain rasanya tak pernah.
Satu lagi yang sangat kuhafal dari SMK N 1 Tempel, Bu Hanik Rosyada. Selain karena waktu itu masih muda dan cantik (he, peace Bu...), juga karena aku menemukan nama beliau di Facebook. Jarang-jarang kutemui nama guruku di FB. Semoga Allah memberi banyak kemudahan dan kemanfaatan bagi guru-guru yang masih berekenan menyempatkan diri FB-an.
Ah, sekali lagi, aku bukan orang yang berbakti kepada guru. Maka bagi guru-guruku yang barangkali sempat membaca tulisan ini, mohon maafkan aku... Tulisan ini sama sekali bukan untuk memperlihatkan ’kekurangan-kekurangan’, apa lagi sekedar olok-olok. Hanya berharap, semoga ada khikmah yang dapat dipetik. Bila ada keburukan dan kekurangan tersirat, semoga menjadi pelajaran bagi guru-guru yang lain seperti saya, agar tak melakukan hal serupa. Sekali lagi, mohon maaf atas segala khilaf.
Doaku, semoga segala amal baik akan mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semoga ilmunya barakah dan semoga senantiasanya diberikan kemudahan hidup, baik di dunia fana ini, lebih-lebih di akhirat nanti.
Hem... hari ini, anak-anak SDIT Buah Hati juga mengenalku sebagai pak guru. Dua puluh tahun mendatang, entah, adakah satu dua di antara mereka yang masih mengenangku. Dan bila ada, entah kesan seperti apa yang mereka kenang dariku. Tentu saja, aku ingin mereka semua mengingatku dari sisi positif, sebagaimana Andrea Hirata mengenang Bu Muslimah. Syukur-syukur ada yang menyebut-nyebut namaku dalam novelnya yang best seller. He he.

Memberi Itu Ternyata Nikmat


Peminta-minta, rasanya semakin banyak saja. Bahkan di kota kecilku ini. Setrateginya rupa-rupa, tetapi motif utamanya sama, meminta. Sebagian mungkin benar-benar terpaksa. Akan tetapi sebagian lainnya, aku yakin banyak jumlahnya, telah menjadikan meminta-minta sebagai pekerjaan. Ah, na’udzubillahi min dzaalik.
Ketika datang seorang peminta-minta pada kita, terkadang sulit membedakan, orang itu kepepet, atau pekerjaan utamanya memang menengadahkan tangan. Mungkin ketularan istri, menghadapi peminta-minta yang menyodorkan tangan di jalan, di bus atau di alon-alon, aku lebih sering melambakan tangan, alias tak memberi.
Terkadang ada rasa tak enak hati juga. Rasanya jadi orang kok terlalu pelit. Dimintai betul-betul tapi malah tak memberi. Padahal seribu rupiah cukup untuk membuat orang itu berterima kasih dan segera berlalu. Tapi di sisi lain, aku juga sering berpikir, kalau orang-orang seperti itu terus ditolelir dan diberi, maka peminta-minta akan benar-benar terus menjamur. Toh yang meminta-minta seringkali terlihat fisiknya masih kokok dan bugar.
Lain halnya bila si peminta memiliki kekurangan fisik, seperti tak mampu melihat atau tak memiliki sepasang kaki. Dalam hal ini, hatiku masih lebih dapat mentolelir. Mereka mengingatkanku untuk banyak-banyak bersyukur kepada Allah. Maka, sekedar ber-dada ketika mereka menjulurkan tangan rasanya terlalu. Meski tentu saja, aku lebih salut pada orang-orang yang memiliki kekurangan fisik, tapi tetap bekerja dan sukses.
Ah, bila peminta-minta memang semakin banyak, mungkin solusinya adalah kebalikannya, memberi. Iya, perbanyak memberi, sehingga tiada lagi orang yang sempat meminta. Tentu saja, maksudku bukan hanya memberi uang receh ketika diminta. Akan tetapi memberi dalam arti lebih luas. Memberi pemahaman, memberi semangat, memberi harapan, memberi peluang usaha, memberi pekerjaan, syukur-syukur juga memberi modal.
Memberi itu nikmat. Akhir-akhir ini aku baru merasakannya. Terlambat sekali mungkin, karena belum lama aku berniat dan tergerak untuk selalu menyisihkan penghasilan bulanan untuk orang yang berhak. Shadaqah acak, itu yang kemudian aku lakukan. Aku menyisihkan sebagaian penghasilan, lalu memberikan uang itu secara acak. Seperti kepada tukang becak yang sedang ngetem di pinggir jalan. Pokoknya ketika bertemu orang yang kira-kira membutuhkan dan layak diberi, kasih saja. Jadi semacam uang kaget dalam jumlah kecil. Aku belum tahu, secara fiqih kontemporer, shadaqah macam ini bagus apa tidak. Yang jelas, aku berharap pahala dan balasan dari Allah.
Rupanya ada kenikmatan tersendiri ketika aku dapat memberi. Menerima ucapan terima kasih dan senyum gembira dari seorang tukang becak misalnya, hati jadi terasa lapang. Bahkan ketika seseorang yang diberi ternyata tidak menunjukkan sikap ramah dan terima kasih, hanya bilang “ya,” tetap saja hati ini bahagia. Apa yang tadi ada pada genggaman telah berpindah kepada orang yang berhak.
Malah, ketika sejumlah uang tertentu yang tak seberapa itu masih ada di tas, atau saku celanaku rasanya tidak enak. Ini hak orang lain, aku harus segera menemukan orang itu. Dan ketika uang itu telah berpindah tangan, lepaslah sudah..., lega.
Iya, dapat memberi itu ternyata nikmat. Pasti jauh sekali bedanya dengan meminta. Bahkan tanpa mengingat bahwa Allah akan mengganti dengan balasan yang berlipat ganda, memberi akan selalu mendatangkan rasa nikmat di hati kita. Mudah-mudahan saja, Allah senantiasa memberi kelapangan rezki, sehingga tangan kita lebih sering di atas. Dan yang terpenting, kita bisa ikhlas dan tergerak untuk memberi dengan sebaik-baik pemberian. Semoga, Allah juga senantiasa melimpahi kita rasa nikmat. Nikmat karena dapat memberi. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Semoga, tulisan ini tak menggusur keikhlasanku, hanya ingin berbagi, bahwa memberi itu ternyata nikmat.
abcs