Hidup Kaya Raya Mati Masuk Surga

Inilah buku pertamaku. Agak culun-culun dikit, tapi tetep keren. N’ yang paling penting, buku ini telah merubah hidupku. Ternyata aku bisa juga jadi penulis, satu hal yang hingga lulus kuliah gak pernah terpikir olehku.
Satu pelajaran besar yang kudapat dari terbitnya buku ini: PD aja lagi!
Mula-mula aku tertarik menulis buku karena emang lagi gak ada kerjaan. Menganggur abis walk out dari sebuah perusahaan. Selesai aku tulis sebuah naskah buku, langsung aku masukkan ke penerbit. Aku datang ke sana, ketemu langsung sama manajernya, dibaca dan langsung ditolak. Ya Sudah!
Tapi aku dapat satu pelajaran penting dari manajer penerbit tersebut; ternyata tulisanku terlalu kaku dan gaya bahasanya sangat tidak menarik. Setelah itu aku menulis buku lagi dengan gaya bahasa yang lebih cair. Sekitar dua minggu kemudian, naskah buku yang belum jadi kuberikan ke penerbit yang sama. Niatnya agar dikritisi aja. Akan tetapi seminggu kemudian, ketika aku bertanya kepada manajer penerbit tersebut, jawabannya sungguh mengejutkan; “Naskahnya sudah kami terima, insya Allah segera diproses.” Alhamudulillah….
Setelah terbit buku ini, bangkitlah semangatku untuk menulis. Dalam dua minggu naskah buku kedua selesai “The Power of Smile”. Beberapa waktu kemudian buku keduaku itu terbit. Subhanallah, jadi penulis beneran, meski masih pemula.
Dan kini, aku ingin terus menulis. Karena tulis-menulis insya Allah menjadi bagian penting dalam hidupku. Doakan ya, bisa sukses jadi penulis!

Kehilangan

Hari itu Maman sedang berada di sebuah bus antar kota. Di bangku urutan kedua dari belakang Maman bersandar, dekat pintu bus. Matanya tiba-tiba terbelalak, ketika ia menoleh ke sebelah kiri. Seorang pria berpakaian rapi sedang mengeluarkan tangannya dari tas seorang gadis. Gadis itu hanya diam sambil menarik-narik tasnya. Sedang pria itu celingusan ketika tahu bahwa Maman mengawasinya. Untunglah, pria itu tak mendapat apa-apa dari si gadis. Beberapa saat berlalu, pria itu meletakkan sebuah dompet pada bangku kosong di sebelah Maman. Seorang bapak datang dan langsung menilep dompet itu dengan koran. Tak berapa lama kemudian, dua copet itu turun. Sepertinya dompet itu milik ibu PNS yang duduk di depan Maman tadi.
Ya Allah, dunia....
Maman begitu geram melihat aksi dua pencopet itu. Namun apa daya...?
Kini Maman justru geram pada dirinya sendiri. Kenapa aku tak berbuat apa-apa? Dompet yang ditaruh di sebelahku tadi jelas-jelas curian. Bisa saja aku langsung mengambilnya dan mengembalikan ke ibu PNS itu. Tapi aku tak bergerak. Aku diam saja. Aku pura-pura tidak mengetahui bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi. Entahlah, aku bahkan tak tahu mengapa. Aku begitu takut. Atau aku hanya enggan mengambil resiko. Astaghfirullah.... Pikiran seperti itu kemudian memenuhi angan Maman dalam perjalanannya.
Tiba-tiba Maman teringat istri tercinta. Baru saja istirnya sms bahwa ia sedang mengambil gaji bulan kemarin. Hari itu memang tanggal satu, saatnya para PNS seperti istri Maman biasa ambil gaji. Ibu PNS itu.... Yang baru kecopetan itu..., mungkin juga baru saja ambil gaji. Sedang semua gajinya ada di dompet tadi.
Angan Maman jadi ke mana-mana. Ia ingat kakaknya yang bekerja sebagai tukang parkir. Hasil kerjanya yang dua kali sehari itu belum cukup untuk biaya hidup keluarganya. Setiap kali bertemu kakaknya, nampak jelas beban berat tersirat dari wajah, kata-kata, dan setiap gerak langkahnya. Lalu angannya pun kembali kepada ibu yang baru saja kecopetan tadi.
Ibu PNS itu..., mungkin juga sedang menghadapi problema berat dalam hidupnya. Barangkali anaknya sedang dirawat di rumah sakit dan menunggu untuk dioperasi. Barangkali suaminya belum lama meninggal. Bisa saja. Padahal, dua minggu lagi hari lebaran. Kenapa hasil kerja satu bulan malah dicopet? Ah, dasar pencopet-pencopet brengsek! Tak kuasa juga Maman menahan emosi.
Tak tahu kenapa, penumpang bus itu dioper ke bus lainnya. Maman duduk di bangku yang sama, nomor dua dari belakang, dekat pintu bus. Kali ini seorang bapak bertubuh gede duduk di sampingnya. “Apa tadi mas-e nggak ketawa?”, bapak itu membuka percakapan. Rupanya si bapak juga mengamati aksi dua copet tadi. Memang, bapak itu tadi duduk di depan Maman, di samping ibu PNS yang kecopetan. Ada cerita yang membuat perasaan Maman semakin tak menentu. Bapak itu bilang bahwa ia sempat melihat dompet tadi berisi lembar-lembar lima pulu ribuan yang banyak. Sepertinya perkiraan Maman betul, ibu itu baru saja mengambil gajinya. Mungkin uang THR juga baru diambilnya hari ini.
Maman sungguh merasa kasihan. Bukan hanya kepada Ibu PNS yang kecopetan tadi, tapi juga pada dirinya sendiri. Ia berpikir, mengapa begitu lemah hinggak tak mampu berbuat apa-apa untuk membantu Ibu PNS itu. Mengapa begitu takut dengan dua copet yang jelas-jelas berjiwa pengecut. Atau jangan-jangan dirinya sendiri juga cuma seorang pengecut.
Satu hal yang sedikit mengobati resah Maman, bapak yang duduk di sampingnya rupanya juga marah dengan dirinya. “Tak berkutik”, satu kata yang sempat didengarnya dari mulut orang itu. Si bapak terlihat terus gelisah, hingga mereka sama-sama turun di terminal Pemalang. Ternyata masih ada juga orang lain yang peduli, meski tak kuasa berbuat.
Andai saja waktu itu Maman menggagalkan aksi dua copet itu, si bapak pasti membantu. Tapi hari itu telah berlu, dan Maman benar-benar hanya mampu berdiam diri? Kini tinggal ia merasa kehilangan. Dalam sepinya Maman pun merenung;
Ibu PNS itu... Yang baru dicopet itu...., hanya kehilangan harta di dompetnya. Mungkin hal itu justru membuat dosa-dosa yang pernah diperbuatnya berguguran, hingga terbebas dari api neraka. Tapi aku...? Aku kehilangan kepedulian... Aku kehilangan empati... Aku kehilangan keberanian... Aku kehilangan keyakinan terhadap Allah. Mungkin juga berarti..., aku kehilangan sebagian dari imanku. Kehilangan apa lagi yang lebih merugikan daripada kehilangan iman? Ternyata aku begitu banyak kehilangan...
Sahabat, pernahkah kau merasa begitu kehilangan, seperti Maman?
Untunglah. Bahwa di balik kehilangan pasti ada hikmah. Seperti obrolan kita yang telah berlalu. Tinggal bagaimana kita mengambil sudut pandang, positif atau negatif. Mudah-mudahan, bila mendapat giliran melihat aksi copet seperti dialami Maman, kita dapat berbuat yang terbaik. Tapi mudah-mudahan, tiada pernah ada lagi copet yang beraksi. Cukup sampai di sini ada yang kehilangan.
Oh ya, bila kau sedang bepergian, hati-hati saja! Barangkali ada copet di sekitarmu. Mungkin tidak mencopet harta, tapi iman..., bekal perjalanan hidupmu!

Belajar dari Senyum Anakku


Namanya Lavy Shafiyyur Rahman. Aku dan Istriku biasa memanggilnya Dede Lavy. Aku menjadi saksi proses kehadirannya di bumi ini, waktu itu kutunggui kelahirannya dengan penuh harap cemas. Hampir 12 jam istriku berjuang dengan sakit yang entah seperti apa. Rasa sakit yang pasti tak akan pernah mendera oleh seorang pria. Aku hanya bisa menemani di dekatnya, membisikkan do’a dan mencium keningnya.
Dia anak pertama yang sungguh menjadi penyejuk hati kami. Hari-hari kami menjadi jauh berbeda setelah kehadirannya dalam gendongan kami. Suatu kenikmatan tersendiri saat aku mengelus rambutnya, mencium pipinya, menimangnya dalam gendonganku, bahkan ketika mencuci popoknya. Satu kebiasaanku yang lain adalah mempertemukan hidungku dengan hidungnya. Kata orang-orang hidungnya mbangir mirip ayahnya. Aku.
Luar biasa Allah menciptakan segala sesuatu. Aku kian menyadari hal ini melihat perkembangan anakku, Lavy. Bulan pertama dia hanya menggunakan tangis sebagai alat komunikasi, memberi tanda; lapar atau ompol. Ketika lapar dalam gendongan, dia selalu aktif menggerakkan dan menempelkan kepalanya ke dada orang yang menggendong, mencari nenen. Begitu pun bila aku yang kebetulan sedang menggendongnya, kepalanya tak henti mencari nenen pada dadaku. Saat seperti itu aku hanya bisa menyerahkannya pada sang bunda. Kalau bundanya tak segera datang, aku akan bilang padanya; “Dede, ini kan ayah. Ayah itu nggak punya nenen. Tunggu bunda ya.” Tapi itu tidak membuat Lavy berhenti mencari nenennya.
Memasuki bulan ke dua, banyak kemajuan dalam diri Lavy. Dia sudah bisa tersenyum dan tertawa, bola matanya mulai bergerak lincah, terutama bila melihat bola warna-warni yang dibelikan sang bunda. Sepertinya kini dia juga mulai mengerti bahwa ayahnya tidak punya nenen seperti bundanya. Saat dalam gendonganku dia tak lagi heboh mencari nenennya. Kalau sudah benar-benar pengen nenen, paling dia cuma menggerak-gerakkan kepala, kaki dan tangannya. Aku biasa gerakan-gerakannya itu dengan istilah “Usek”.
Pengalaman unik terjadi ketika istriku sakit. Demi memberi waktu istriku untuk beristirahat, malam itu aku berjaga menunggui anakku. Mengganti popoknya, membedongnya, juga menimangnya agar tidur kembali. Saat dia terbangun karena ompol, aku pun segera mengganti popok dan membedongnya. Namun tugas terakhirku tidaklah tuntas, aku tak bisa meninabobokkannya. Lama kuayun dalam gendonganku, matanya tak jua terpejam, justru tubuhnya mulai usek. Cara lain kucoba dengan menaruhnya kembali ke tempat boboknya. Aku berharap dia akan tertidur sendiri. Tapi sekali lagi itu tidak berhasil. Dia semakin usek dan mulai merengek. Aku kewalahan. Saat itulah istriku terbangun dan mendekat. Menarik sekali, begitu Lavy melihat sang bunda, ekspresi wajahnya langsung berubah. Senyumnya mengembang lebar, rengekannya hilang seketika. Sontak aku dan istriku tertawa.
Subhanallah… Sekali lagi, belum genap dua bulan usianya. Begitupun Allah telah memberinya berbagai pemahaman. Kini ia telah benar-benar mampu membedakan mana ayah dan mana bunda.
Lavy baru dua bulan menemani hidup kami di dunia. Hari-hari ke depan aku berharap akan semakin banyak pemahaman yang dimilikinya. Saat ini pun kami sudah mulai mengajarinya membaca, seperti yang disarankan Fauzil Adhim dalam bukunya. Mudah-mudahan aku dan istriku mampu memberi keluasan cakrawala berpikirnya, hingga kelak dia akan menjadi salah satu pejuang dalam barisan Allah Yang Maha Penyayang.

Waktunya Untuk Berbagi


Kisah ini pernah kujalani.
Tombol power komputer baru saja aku pencet. Ketika loading selesai, segera kuputar video riset psikologi yang pernah aku dapat dari kawan di Jogja. Ingin aku menonton film-film pendek itu bersama istri. Tapi dia rupaya sedang tidak berminat. Istriku justru merebahkan dirinya di ranjang tidur kami. Lalu suara lembut meluncur dari bibir manisnya; “Suami…!!” Aku pun menyahut; “Apa istri….?” Kami biasa saling sapa seperti itu. Walau tiada sesuatu ingin disampaikan.
Film berjudul Ghadul Bashar kini kuputar. Berisi riset tentang efek memandang lawan jenis terhadap sistem-sistem hormonal di tubuh manusia. Namun, satu film pendek itu belum lagi usai, istriku kembali berucap merajuk; “Suami..., istri pengen denger cerita.” Enggan rasanya menanggapi istriku. Aku masih ingin menonton. Tapi egoku mereda, ketika istriku kembali memanggilku merayu-rayu; “Suami….!! Suaami.” Lagi pula, tidak sampai dua bulan lagi, insya’Allah istriku akan berjuang melahirkan jundi kami yang pertama. Do’akan ya. Sungguh, sedikitpun aku tak ingin membuatnya kecewa.
Aku datang, menjulurkan tubuhku berbaring di sampingnya.
Aku lupa telah bermula dari mana. Yang jelas, berbagai cerita kemudian berhambur dari mulutku dan mulutnya. Tentang masa kecil kami, tentang orang tua kami, tentang saudara-saudara kami, tentang rencana usaha kami, tentang… banyak sekali. Istriku terhanyut, ketika kuputar kembali memori tentang kisah-kisah pahit yang pernah kualami. Tapi aku tahu, istriku juga bahagia. Bahagia karena aku mau berbagi. Begitupun diriku, aku bahagia bisa berbagi cerita. Kegembiraanku kini jauh lebih banyak dari yang aku dapat ketika nonton film riset psikologi tadi. Terima kasih istriku, kau telah mengajakku berbagi.
Waktu berbagi memang perlu. Selain karena kita harus terus-menerus berta’aruf dengan pasangan, seperti diungkap Budiyanto pada kolom ayah edisi November lalu, juga karena berbagi mengundang harmoni. Berbagi mendatangkan bahagia hati. Berbagi mengusir duka dan resah yang sempat menghantui.
Kisah-kisah pilu “anak pembantu” tentu telah banyak engkau dengar. Cukup sudah hal itu menjadi alasan pentingnya berbagai. Jikalau ayah ibu pergi pagi dan pulang malam, maka peran mereka sepenuhnya digantikan pembantu. Bila anak bangun tidur, bukan ayah atau ibu yang dicari, melainkan si embak atau si bude. Ya si pembantu itu. Ketika beranjak dewasa, kisah-kisah pilu itu dimulai. Lalu hilanglah harmoni. Broken home, akhir drama itu. Begitulah, kalau waktu berbagi sudah dikorupsi.
Maka, mari selalu sediakan waktu untuk berbagai dengan keluarga. Istri, suami, anak, semua butuh bercerita dan mendengar cerita. Kalau bukan keluarga yang mengambil peran, maka akan digantikan oleh televisi, radio, atau juga pembantu. Lalu…, kisah pilu pun berulang. Bisa jadi terjadi pada keluarga kita. Jangan sampai!
Mari selalu sediakan waktu untuk berbagi dengan keluarga. Sesibuk apapun aktivitasmu di luar sana, keluarga jadikan yang utama. Bolehlah suami istri semua bekerja, asal waktu berbagi dengan keluarga tetap tersedia. Tiada artinya sukses mengumpul harta, kalau keluarga sendiri merasa sengsara dan merana. Tiada guna terus bekerja, kalau untuk saling bercerita saja tak bisa. Maka sekali lagi, mari sediakan waktu untuk berbagi.

AMBAK; Apaan Itu Mbak?

Loe ngerti nggak seh, kenapa Jepang bisa maju?
Oke, sebelum loe sebutin jawabannya, baca dulu yang berikut ini!
Di negeri kita neh, kalo ada siswa ditanya kenapa hari ini belajar matematika, maka bakalan dijawab; “Ya karena hari ini hari Senin (atau menyebut hari-hari lainnya), jadwalnya matematika.”
Beda banget kalo murid-murid Jepang yang ditanya. Mereka punya jawaban yang lebih bermutu. Di antara mereka bakal ngejawab; “Saya hari ini belajar matematika karena nanti ingin menjadi tenaga ahli di bidang teknik nuklir. Nah, karena itu aku harus menguasai matematika, sebagai jalan menguasai ilmu-ilmu lainnya.”
So, orang Jepang punya tujuan yang jelas mengapa mereka mempelajari sesuatu. Karena itu mereka bersemangat. Mereka sungguh-sungguh karena apa yang dicitakannya takkan tergapai tanpa belajar. Contoh sederhananya, bila Pak Joko pengen jadi sopir taksi, maka dia akan belajar nyetir mobil sampai bisa. Iya, karena bisa nyetir itu syarat utama jadi sopir. Nggak bisa nyetir, ya nggak bakal jadi sopir.
Emang kok, dalam aktivitas apapun, mengetahui tujuan jadi kewajiban utama. Pemahaman yang benar akan tujuan yang hendak dicapai akan mampu menggairahkan dan memaksimalkan efektifitas kerja. Coba ingat kalo kamu pernah liat ibu-ibu yang lagi marah. Meski biasanya rada pendiam, ketika marah mereka bisa membanjirkan kata begitu mudahnya. Tiba-tiba saja mereka sangat cerdas mengungkap rasa. Kenapa? Karena mereka paham betul mengapa harus bicara macam-macam. Ada yang ingin disampaikan, ada yang meski diberi pemahaman, ada yang harus dirubah dan diluruskan.
Nah, kalo loe pengen sukses belajar, itu dia kuncinya; mula-mula loe kudu temuin tujuannya. Loe mesti paham untuk apa belajar sesuatu. Makanya loe mesti bertanya dulu pada diri sendiri befor belajar. Dalam bahasanya Bobbi DePoter dan Mike Hernacki di buku Quantum Learning, loe mesti bertanya dulu tetang AMBAK. Apaan itu Mbak?
Nah, AMBAK itu singkatan dari Apa Manfaatnya Bagiku? Jadi, sebelum belajar matematika misalnya, kita harus menanyakan pada diri sendiri; Apa manfaatnya bagiku belajar matematika? Semakin banyak kamu bisa menemukan manfaat-manfaat itu, semakin tinggi nilai guna yang akan kamu peroleh. Insya Allah kamu juga bakal semangat untuk belajar. Itu berlaku ketika kita mau belajar apa aja. So, kenapa negeri Jepang maju?

Bocor

Rame orang pasar, berdesing-desing. Sayup-sayup gedebugan - Inul lagi ngebor di pojok sana - dari penjual VCD bajakan. Bus besar kecil, motor, ontel, becak, grobak, pejalan kaki, orang gila, mahasiswa, anak sekolah, preman, banci, pengemis, orang kesasar; lalu lalang. Asap rokok mengepul. Telentang, dua kaki selonjor ke atas. Sesekali melongok kanan kiri, mengapali bus antar kota yang berhenti. Empat jam sudah dia di situ. Lelah menunggu hidup hari ini. Pak Kirman pasrah. Siul, campur sari, selang-seling tebaran asap. Prasasat koyo ngenteni udane mongso ketigo…..
Bus Jakartanan berhenti. Tiga becak balapan, yang dua tabrak-menabrak. Meloncat. Becak ditinggal, kejar orang turun dari bus. Tukang ojek ikut ngebut, nyerobot. Ternyata sudah dijemput pake mobil. Pak Kirman melongo, tapi beruntung. Target lain datang dari pasar.
“Mbecak den?”
“Perum Taman Sari Pak.”
“Iya’ sip.” Pak Kirman meloncat. Sedel becak halus mulus, sebelas tahun tergerus pantat. Penumpang naik dan pedal digenjot. Anak sekolah ngebut. Wanita gembrot naik ontel menyalami, tetangga, teman sepermainan waktu kecil. Dua polisi lalu lintas lagi main remi di gardu, ongkang-ongkang. Topinya saja dipajang. Bus seukuran rumahnya nekat. Terpaksa berhenti empat detik. Setengah centi dari becaknya; Wush…! “Djuancuk! Sopir guendeng!”
Seperempat jam sampai tujuan. Penumpang turun, mata merah kelilipen. Debu kota tak pernah kompromi. “Berapa Pak?”
“Empat ribu Den.”
“Ni lima ribu, nggak usah kembali.”
“Matur nuwun Den. Matur nuwun.”
Gaya orang rada elit. Biasanya kalo ada yang mau naik becak nanya harga dulu, kecuali langganan. Habis itu nawar. Harga lima ribu ditawar seribu lima ratus, emang rongsokan?! Tiga tahun tak pernah naik harga. Tak ada alasan harga premium melambung. Justru untung, menang saing dikit sama ojek. Biaya kaki, paling pijet, setengah tahun sekali. Tak ada biaya amortisasi buat kempol yang mulai kendor dan boyok yang mulai bengkok.
Jam lima sore Pak Kirman cabut. Lelah habis peluh. Daki-daki membunuh, memaksa orang membuang hidung. Becak diparkir, masuk rumah, baju dilempar. Pak Kirman kembali telentang. Kali ini di amben. Nikmat.
Bu Kirman masak sayur terong tambal sambel trasi. Nasi liwetan tadi pagi masih separo, tapi beras ludes. Hari ini Pak tak bawa duit berarti besok puasa. Utang di toko sebelah terkumpul tiga belas ribu. Tambal sulam, tak pernah lunas.
“Gawekno kopi Bune!”
“Gak punya Pakne, sudah habis.”
“Ni duit, beli di warung sebalah. Sekalian beras buat besok. Terus jangan lupa, kretek dua biji.”
“Rokok mulu dipikir! Sini duwite! Parune kumat kapokmu!”
“Biarin, mati sekalian juga tak apa.”
“Pakne masuk neraka aku juga nggak bakal nangis. Tapi aku? Rini anakmu? Mau makan apa? Tega Pakne mati? Iya kalau langsung mati, kalau harus opname dulu tujuh minggu, siap yang mau bayar?”
Dua tahun lalu Pak Kirman pingsan saat nggenjot becak. Di bawa ke rumah sakit, paru bocor. Habis dua juta dibayar adiknya satu setengah. Sisinya dicicil. Tobat dua minggu nggak ngebul. Selanjutnya biasa. Malah tambah banter. Sehari sembilan lencer; tentu kalau lagi ada duit.
******
“Tanggal sepuluh paling telat bayar SPP Pak. Sudah nunggak dua bulan, Rini malu.”
“Belum ada Rin, pijem bulekmu dulu sono!”
“Pinjem-pijem! Malu Pak!”
“Ya sudah, suruh makmu yang pinjem sono!”
“Utang dua bulan lalu tujuh puluh ribu belum dibaliin Pakne. Pinjem sendiri sono kalo gak malu.” Teriak Bu Kirman dari dapur.
“Yo wis, dongakno wae mugo-mugo rejekin banter sitik.”
“Tanggal sepuluh yo Pak, tiga hari lagi. Sembilan puluh ribu buat tiga bulan. Rini berangkat sekolah dulu.”
“Yo wis sono, hati-hati.”
Gundah yang biasa, tak pernah henti, masalah duit. Simpenan di bawah bantal cuma dua puluh ribu. Kalau hari ini dapat sepuluh ribu, berarti besoknya harus dapat enam puluh. Kalau hari ini nggak dapat apa-apa, besok harus dapat tujuh puluh. Ajaib. Sampai kaki putus nggak bakalan bisa. Sebelas tahun narik becak nggak pernah dapat enam puluh ribu dalam sehari. Paling banter lima pulu ribu. Itu pun karena disewa turis, keliling kota seharian bareng dua saingan sekaligus teman ngobrolnya, Pak Hernawan dan Bejo. Pulang-pulang pijet, bayar lima belas ribu. Besoknya cuma bisa ngetem setengah hari.
Jam tujuh pagi Pak Kirman berangkat. Hari ini harus rela ngetem lebih lama. Plus doa. Bagaimanapun juga kepentingan anak nomor satu. Bisa lulus SMK pasti bangga luar biasa. Anak tetangga masih ada yang mentok sampai kelas satu SMP, nggak kuat bayar. Kalau perlu syukuran, buat tumpeng sama gudangan. Kasih telor dua dibagi enam belas.
Pak Kirman dihukum anaknya sendiri. Seharian cuma ngebul dua lencer. Eman-eman duit buat beli rokok. Megap-megap saking pengen. Ditahan. Waktu pulang nggak kuat, beli satu lagi. Teman paling setia sejak disunat; rokok itu. Hari ini lima belas ribu lumayan. Dikurangi buat rokok seribu dua ratus, buat beras dan sayur enam ribu enam ratus, sisa tujuh ribu dua ratus.
*******
Besok pagi deadline dari Rini, anaknya. Bayar buat sebulan aja ngutang, buat tiga bulan sekaligus bagaimana caranya. Terpaksa Pak Kirman ngetem lagi malam ini. Satu hal yang sudah lama tak dilakukannya, semenjak parunya bocor. Udara malam di luar terasa ngeri, bikin takut mati. Namanya juga terpaksa. Hasil siang tadi setelah dikurangi beras dan rokok cuma lima ribu tiga ratus. Total tabungan berarti tiga puluh dua ribu lima ratus. Baru cukup buat satu bulan. Asumsinya esok lusa nggak usah makan.
Malam kian sunyi. Orang pacaran pada pulang. Pegawai kantoran sudah lelap. Orang gila tidur di emperan. Supermarket, toko kelontong, bengkel, rental komputer, mi ayam, bakso, nasi goreng, tempe penyet, semua pada tutup. Kecuali angkringan dan burjo masih buka. Warnet juga masih banyak pengunjung; anak-anak gila ketagihan gambar orang telanjang. Grobak-grobak dorong membikin bunyi; srek-srek.
Dingin, sepi. Jaket dan sarung lupa dibawa. Pak Kirman meringkuk. Bintang gemerlip, rembulan nampak separo. Gemerincing penjual sate lewat. Sesekali mobil dan motor menderum. Jam dua belas malam penumpang pertama. Pegawai negeri pulang dari Jakarta, masih pake baju dinas. Satu tas besar dijinjing, satu lagi di cangklongan. Jelas bukan preman iseng.
“Ke mana njih?”
“Jalan Sri Wedari, habis Taman Sari.”
Hapal betul jalan. Hari ini saja sudah dua kali PP lewat jalan yang sama. Penumpang Pak Kirman memang kebanyakan dari Perum Taman Sari. Dan malam ini terasa berat. Kaki linu, boyok pegel-pegel, kepala sedikit senut-senut, dan nafas kian pendek, sengal-sengal. Kalau bukan karena anak, sudah nglempus pake selimut. Makin lama nggak kuat; ngos-ngosan, sesek. “Tobat, tobat. Rokok keparat!” Masih satu biji di telinga, sisa tadi siang. Diambil lalu di lempar. Dan gdebuk!
“Loh Pak, Pak, kenapa Pak? We, ladalah, tibo.”
Penumpang itu turun. “Pak, Pak kenapa Pak? Loh Pak jangan mati Pak! Aduh piye tho iki?”
Nafas Pak Kirman dicek. “Aduh mati temenan. Ngrepoti wae, mati kok ya nggak nunggu nyampe rumah.”
Pak Kirman diangkat ke becak. Penumpang gantian nggenjot. Balik arah, sempoyongan, ke RSUD. UGD buka.
Pagi harinya ribut. Orang rumah dapat kabar dari Pak Yulianto, penumpang semalam. Rini nangis-nagis, mengutuk diri, mengguyur bantal. Tetangga berdatangan, bikin gaduh. Lima orang dari kampung sebelah, mau layat. Bu Kirman puyeng, “We alah Pakne, disuruh nggak usah berangkat kok ya nekat.”
Jam sepuluh pagi kumpul di rumah sakit. Bu Kirman, Rini, Paijo dan Lastri. Dua yang terakhir adik dan ipar Pak Kirman. Pak Kirmannya nggak mati, semalam cuma pingsan. Hidungnya dipasang selang. Dari semalam sudah habis tiga tabung. Tobat!
“Pakne, Pekne, untung masih ketulungan.”
“Yo wis nasib Bune.”
******
Besok paginya Pak Kirman sudah boleh pulang. Seluruh biaya dibayar Paijo. Plus sembilan puluh ribu buat SPP Rini. Libur narik becak sudah tentu. Siang-siang lemes, dan….
“Bune, tukokno rokok selencer wae!”

2 Agustus 08, kangen Jogja.

Pelanggaran

Pernahkah engkau mencontek saat ada tes di sekolah? Bagus sekali kalau kau menjawab; TIDAK PERNAH. Masalahnya di sekolah tertentu, terutama di sekolah-sekolah kurang favorit, apa lagi jurusannya juga tidak favorit, mencontek kadang menjadi kebiasaan turun-temurun. Jangankan anak yang tidak pernah dapat rengking, juara kelasnya saja mesih tergoda untuk ikut mencontek. Nggak percaya? Kau survey aja sendiri!
Banyak cara yang dilakukan anak-anak sekolah itu dalam mencontek. Ada yang membuat catatan kecil-kecil di sebuah kertas panjang, kemudian digulung atau dilipat hingga lipatan paling kecil. Ada pula yang menaruh kertas contekannya dalam laci, saku celana, bahkan kaos kaki. Sebagian siswa suka melirik jawaban teman sebelah. Yang lainnya saling bertanya dengan lempar-lemparan kertas. Yang lainnya lagi saling bekerjasama dengan kode-kode tertentu. Bahkan ada yang sering menuliskan contekannya pada meja tulis. Sebelum tes mereka menuliskannya pada meja yang hendak dipakai ujian, usai ujian mereka menghilangkan tulisan itu dengan pemes untuk digunakan mencontek pada tes berikutnya.
Masalahnya lagi, guru-gurunya terkadang juga tak begitu peduli dengan kebiasaan mencontek ini. Jelas-jelas muridnya pada mencontek, tapi dibiarkan saja. Memincingkan mata dan pura-pura tidak melihat. Parahnya lagi, di sekolah-sekolah tertentu guru-gurunya justru memberi jawaban ujian kepada murid-muridnya. Hal ini sering terjadi pada Ujian Nasioan. Demi menyelamatkan murid-muridnya dari kegagalan, demi menjaga nama baik sekolah, ya diberi jawabannya saja.
Nah, lebih parahnya lagi, ternyata hal itu juga telah menjadi kebijakan dinas pendidikan di kota X. Wal hasil, kota X ini menjadi peringkat pertama pada Ujian Nasional tahun itu. Weleh, ternyata kota X itu adalah kota tempat tinggalku sendiri. Menyedihkan!
Mencontek dalam hal ini memang hanya dilakukan oleh siswa atau mahasiswa yang sedang ujian. Tapi secara umum, inilah potret masyarakat kita. Betapa sering manusia melanggar aturan untuk memperoleh hasil yang instan. Padahal, hasil itu barangkali akan menghancurkan diri sendiri di masa yang akan datang.
Lihatlah di jalanan, betapa banyak pengendara yang nekat menerobos lampu merah. Banyak sekali. Kalau lampu kuning menyala, pengguna jalan bukannya memperlambat kendaraannya, tapi justru tambah ngebut menghindari lampu merah. Ketika lampu merah sudah menyela, mereka pun terus melaju, sebelum kendaraan-kendaraan dari arah kanan mulai bergerak. Itu kalau tidak terlihat polisi lalu-lintas sedang berjaga. Kalau melihat polisi, mereka akan mengerem mendadak. Beruntung kalau tidak kebablasan. Kalau mbablas, bisa-bisa berhenti tempat di tengah perempatan, seperti yang pernah dialami si Ayi. Jadilah makanan empuk polisi.
Nah, para pelanggar itu bukannya tak tahu aturannya. Bukan pula tak tahu kalau pelanggarannya penuh resiko. Tapi karena kecenderungan untuk melanggar aturan memang sudah tertanam di jiwanya. Plus ada kesempatan.
Lihatlah di kantor-kantor (pemerintahan terutama), betapa banyak pelanggaran terjadi. Pegawai yang hobi telat dan bolos. Pegawai yang nonton VCD goyang ngebor di komputer saat jam kerja. Pegawai yang main tenes meja dengan meninggalkan pekerjaan kantor yang belum digarap. Pegawai yang minta sogokan pada masyarakat yang memerlukan pelayanan. Pegawai yang korupsi, walau tak selalu berjumlah besar. Hal-hal seperti itu merupakan fenomena yang berulang-ulang. Kalau tak percaya, sering-sering saja ke kantor-kantor seperti itu, kau akan menemukan hal-hal yang MENYEBALKAN. Kenapa semua itu terjadi? Bukan pula karena mereka tak tahu aturannya. Tapi karena kecenderungan untuk melanggar aturan memang sudah tertanam di jiwa. Plus ada kesempatan.
Pelanggaran. Dalam permainan sepak bola, pelaku pelanggaran akan mendapat ganjaran. Diberi kartu kuning atau justru diusir dari kancah pertandingan; kartu merah. Kalau tidak, minimal pihak lawan akan mendapatkan tendangan bebas. Tapi pemain sepak bola juga selalu berhati-hati dengan pelanggaran. Kalau wasit sedang mengawasinya, ia takkan melakukan pelanggaran dengan terang-terangan. Kalau ada kesempatan..., baru....
Begitupun dalam lingkup-lingkup kehidupan lainnya, orang akan berhati-hati melakukan pelanggaran kalau sedang diawasi. Kalau polisi sedang mengatur lalu-lintas di tengah jalan, orang takkan berani menerobos lampu merah (kecuali motornya gede atau temannya banyak). Itu karena resikonya jelas, ia bakal ditilang. Di kantor-kantor seperti yang telah kita bicarakan juga takkan terjadi banyak pelanggaran, kalau sedang diawasi pimpinan atau datang seorang penilik. Kecuali kalau mereka sudah terbiasa kongkalikong dengan pimpinan dan pengawasnya. Dan biasanya memang sudah begitu. Antara pimpinan dan bawahan, antara pengawas dan yang diawasi sama saja, tukang buat pelanggaran.
Jika tak ada pengawas, pelanggaran-pelanggaran itu hampir selalu terjadi. Kalau ada operasi mendadak, orang-orang kelabakan. Ada polisi yang menertibkan pengguna jalan, memeriksa kelengkapan berkendaraan misalnya. Atau pada kasus Pegawai Negeri, ada operasi Satpol PP datang ke tempat-tempat umum untuk mencari Pegawai Negeri yang melanggar jam kerja.
Celakanya, kebiasaan melakukan pelanggaran tak hanya dilakukan terhadap aturan-aturan yang ditetapkan manusia. Pelanggaran juga biasa dilakukan terhadap aturan-aturan Sang Penguasa Jagad Raya. Lihatlah dosa-dosa yang dilakukan manusia. Di mana saja, kapan saja, selalu ada. Ada dan selalu ada. Sebabnya; mereka tidak merasa sedang diwasi.
Bagi orang Islam, perbuatan dosa banyak dilakukan bukan karena tidak tahu akan larangannya. Banyak orang yang tekun mempelajari syari’at, tapi tetap saja gemar bermaksiat. Pun kalau dosa-dosa itu dilakukan karena tidak tahu aturan yang benar, ia mungkin tetap mendapatkan ganjarannya di neraka.
Waku itu Supri dan Ayi sedang menuju Pantai Baron untuk survey tempat di mana Lembaga Dakwah di kampus mereka hendak mengadakan rihlah. Biasa, mereka berangkat dengan Astrea 800 milik Supri. Di tengah perjalanan, tiba-tiba mereka dicegat polisi dan ditilang. Ternyata mereka telah melewati jalur yang salah. Dulu jalan itu memang dipakai untuk jalur ke arah selatan, tapi ternyata sekarang ada jalan baru di sebelah timur. Jalan baru inilah yang digunakan untuk jalur ke arah selatan. Sedang jalan yang tadi mereka lewati khusus untuk jalur ke utara. Pak polisi tentu tak menerima alasan bahwa Supri dan Ayi tidak tahu aturannya atau tidak melihat rambu-rambu. Yang jelas rambunya telah dipasang dan mereka melakukan pelanggaran. Karena itu harus ditilang.
Yang menyebalkan, bapak-bapak polisi itu mengintip dari tempat tersembunyi. Baru kalau ada pengendara yang nyasar di jalur itu, pak polisi muncul untuk menilang. Bukankah bapak-bapak polisi itu seharusnya berada di pertigaan tempat para pengendara harus berbelok, untuk memberitahukan pengguna jalan bahwa ke arah selatan dialihkan melalui jalan sebelah timur? Ternyata pelanggaran para pengendara memang telah diharap-harap oleh bapak-bapak polisi itu. Untuk apa lagi kalau bukan mendapatkan bagian dari uang tilang. Jadi, sebenarnya siapa yang melakukan pelanggaran?
Allah telah membuat aturan yang sebaik-baiknya dengan menurunkan al-Qur’an. Allah juga tidak memberikan hukuman yang tidak adil seperti bapak-bapak polisi itu. Tapi tetap, alasan “tidak tahu” tidak dapat diterima. Ya Allah, aku tidak tahu kalau zina itu berdosa, aku tidak tahu kalau korupsi itu melanggar aturan, aku tidak tahu kalau Kau melarang riba, aku tidak tahu kalau Kau perintahkan kami shalat dan zakat, aku tidak tahu kalau puasa Ramadhan itu wajib. Ya Allah, aku tidak tahu tentang semua itu, maka ampunilah aku. Mana bisa begitu?!!!
Begitulah, kecenderungan untuk berbuat pelanggaran memang sudah tertanam dalam jiwa manusia? Pernahkah kau melihat pertandingan sepak bola tanpa pelanggaran yang disengaja? Sepertinya hampir tak pernah!
Memang, selain jalan kebaikan, manusia juga telah diilhamkan jalan kefujuran. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefujuran dan ketaqwaannya.” (Qs. Asy-Syams: 8). Tapi al-Qur’an bukan hanya ayat ini. Al-Qur’an terdiri dari 30 jus yang terdiri dari 114 surat. Ayat tadi tak bisa dijadikan pembenaran untuk pelakukan pelanggaran. Justru ayat ini diturunkan agar manusia berhati-hati dengan kecenderungan-kecenderungan buruk yang ada pada dirinya. Jangan biarkan ia menguat dan menjelma menjadi tindakan. Tapi sucikanlah! “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (Qs. Asy-Syams: 10)
abcs