Tina & Bapaknya


“Lihat tuh..! kikiki...”
“Wakakak...”
Teman-temanku ikut tertawa ketika kutunjuk si Tina. Anak manja itu seperti biasa, diantar bapaknya ke sekolah pakai motor. Kayak anak SD aja. Tapi bukan itu yang membuat kami tertawa. Bapaknya tidak cukup mengentar si Tina sampai depan gerbang sekolah, tapi sampai depan kelas. Turun dari motor, Tina mengandeng tangan bapaknya erat-erat. Lucu sekali. Kalau saja umurnya tidak kelihatan beda tiga puluhan tahun, anak-beranak itu pasti dikira sepasang kekasih. Atau kalau saja tidak di sekolahan, barang kali orang akan mengira kalau si Tina adalah anak nakal yang mau saja diajak ke mana-mana sama om om.
Nyatanya itu si Tina dengan bapaknya..., lucu sekali.
Iya, Tina memang lucu. Lucunya lagi dia bisa jadi sahabat baikku. Kok bisa ya? Kadang aku berpikir begitu. Aku ini bisa dibilang rada tomboy dan urakan. Pokoknya 180% kalau dibandingin sama si Tina. Apa lagi dalam urusan yang tadi. Ah, nggak mungkin banget aku bakal kayak si Tina. Gandengin bapakku ke mana-mana? Ih, amit-amit.
Sebenarnya Tina anaknya sangat baik. Dia peduli dengan masalah-masalah yang sedang dihadapi teman-temannya. Maka meski aneh, terutama dalam hal gandeng-gandeng tangan bapaknya itu, si Tina tetap punya banyak sahabat. Malah aku sendiri adalah sahabat terdekatnya.
Di samping itu, Tina anak yang berprestasi. Juara di kelasku. Kalau ada PR, Tinalah rujukan pertama untuk dimintai contekan.., hehe. Terutama PR matematika. Sebenarnya bukan contekan sih. Soalnya kalau ada yang mau mencontek PRnya, Tina selalu memastikan anak itu paham dulu. Dia terangkan dulu cara mengerjakan PR itu sejelas-jelasnya – macam bu guru saja – baru boleh dicontek. Mungkin rada soksokan, tapi memang berguna. Minimal anak-anak macam diriku yang anti matematika begini jadi ngerti dikit.
Yang paling tidak kumengerti adalah hubungan Tina dengan bapaknya itu. Mirip betul sepasang kekasih. Sebenarnya aku sering risih. Saat pulang sekolah, kami lagi jalan bareng, tiba-tiba muncul bapaknya..., langsung deh Tina cium tangan terus gandengan sama bapaknya itu.
“Sampai ketemu besok ya...,” begitu saja, terus ngacir sama bapaknya.
Dalam hal ini, Tina memang anak yang aneh. Aku benar-benar tak mengerti. Hingga suatu hari...
Aku tak mengerti. Tina yang kehilangan, tapi hatiku iku teriris-iris. Air mataku tak terbendung, tumpah. Surat ijin tidak berangkat dari Tina sampai ke sekolah, dengan catatan, bapaknya meninggal dunia sebab serangan jantung.
Allah...
Aku tahu betapa Tina mencintai bapaknya. Dia nomor satu dalam hal ini. Dan kini bapaknya pergi... Betapa Tina pasti sangat kehilangan. Aku tak tahu, kenapa jadi ingin melihat sahabatku itu menggandeng tangan bapaknya lagi...
Aku... Betapa aku tidak berbakti kepada ayahku. Memikirkannya saja jarang sekali. Astaghfirullahal’adzim...
 

Raih Kesempatan Mendapatkan Buku GRATIS

Tak hanya apik dan menarik, tapi buku ini juga sarat hikmah. Kisah nyata yang disajikan dari dua kacamata, kacamata seorang suami dan kacamata istri memberi warna-warni tersendiri. Bagaimana seorang suami menilai sebuah konflik dan seorang istri menilai konflik yang sama dengan cara berbeda. Ketegangan-ketegangan yang muncul sungguh bagaikan novel, seru. Insya Allah, membaca buku ini akan banyak memberimu pelajaran, juga keasyikan.


Kisah nyata ini dituturkan secara jujur, tiada yang disembunyikan. Maka di sana ada kegelisahan, kemarahan, kegamanan, haru-biru..., bahagia, juga CINTA.


Dalam buku ini penenulis menceritakan tentang peliknya permasalahan ketika hendak mengarungi hidup baru, PERNIKAHAN, hingga tahun pertama membina hidup berrumah tangga. Banyak pelajaran yang dapat diambil. Hal-hal yang sepertinya sederhana ternyata mengandung hikmah yang tak ternilai harganya.


Buku ini sangat cocok dibaca, terutama bagi engkau yang segera menuju pernikahan, bagi pasangan-pasangan bulan madu, ataupun keluarga-keluarga muda yang hendak membina rumah tangga dengan penuh cinta. Di luar itu, siapapun boleh baca dan silahkan mengambil hikmahnya.


Silahkan pesan SEGERA! Untuk 25 pemesan/pembeli pertama akan diundi dan berkesempatan meraih buku GRATIS dari Rahman Hanifan.




Cara membeli buku:

1. Silahkan memesan dan tinggalkan alamat ke rahmanhanifan@gmail.com

2. Kami akan memberikan total harga (harga buku 43.000 plus ongkos kirim via JNE dari Jakarta)

3. Silahkan tranfer ke rek BCA: 1281597251 atas nama: Aulia Halimatussadiah

4. Silahkan konfirmasi pembayaran dan lampirkan bukti tranfer (slip transfer, bukan struk ATM) ke rahmanhanifan@gmail.com dan cc-kan ke admin@nulisbuku.com (Ini wajib dilakukan karena kalau tidak, pesanan tidak akan diproses)

5. Silahkan tungguh kiriman bukunya.

atau boleh juga pesan langsung di sini

http://nulisbuku.com/books/view/magelang-pemalang-via-sydney

WHEN TOMORROW STARTS WITHOUT ME

When tomorrow starts without me
And I'm not there to see,
If the sun should rise and find your eyes
All filled with tears for me;

I wish so much you wouldn't cry
The way you did today,
While thinking of the many things,
We didn't get to say.

I know how much you love me,
As much as I love you,
And each time that you think of me,
I know you'll miss me too;

But when tomorrow starts without me,
Please try to understand,
That an angel came and called my name,
And took me by the hand,

And said my place was ready,
In heaven far above,
And that I'd have to leave behind
All those I dearly love.

 

But as I turned to walk away,
A tear fell from my eye
For all my life, I'd always thought,
I didn't want to die.

 

I had so much to live for,
So much left yet to do,
It seemed almost impossible,
That I was leaving you.

I thought of all the yesterdays,
The good ones and the bad,
I thought of all the love we shared,
And all the fun we had.

If I could relive yesterday,
Just even for a while,
I'd say good-bye and kiss you
And maybe see you smile.

But then I fully realized,
That this could never be,
For emptiness and memories,
Would take the place of me.

 And when I thought of worldly things,
I might miss come tomorrow,
I thought of you, and when I did,
My heart was filled with sorrow.

 

But when I walked through Heaven's gates,
I felt so much at home.
When God looked down and smiled at me,
From His great golden throne

 

He said, "This is eternity,
And all I've promised you.
Today your life on earth is past,
But here life starts a new.

 

"I promise no tomorrow,
But today will always last,
And since each day's the same way
There's no longing for the past.

 

"You have been so faithful,
So trusting and so true.
Though there were times
You did some things
You knew you shouldn't do.

 

"But you have been forgiven
And now at last you're free.
So won't you come and take my hand
And share my life with me."

So when tomorrow starts without me,
Don't think we're far apart,
For every time you think of me,
I'm right here, in your heart.

~By David M. Romano, 1993~

Saatnya Berhenti Menyalahkan Waktu

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SETAHUN coba kau tanya pada murid yang tinggal kelas!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu  SEBULAN coba kau tanya pada ibu yang  melahirkan bayi prematur!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEMINGGU coba kau tanya pada editor majalah mingguan!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEHARI coba kau tanya pada orang yang akan menikah esok hari!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEJAM coba kau tanya pada kekasih yang menunggu untuk bertemu!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEMENIT coba kau tanya pada orang yang ketinggalan pesawat terbang!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEDETIK coba kau tanya pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEMILI DETIK  coba kau tanya pada runner up balap motor dunia!

 

Kata orang ‘waktu adalah uang.’ Kata yang lainnya ‘waktu adalah pedang.’ Barangkali seorang pemilik tambak akan mengatakan bahwa ‘waktu adalah udang.’ (Asal jangan kepleset menjadi ‘waktu adalah hutang.’ Makin lama waktu berjalan, makin banyak pula hutang. Cucian deh Abang!)

Relatif memang nilai waktu, tergantung bagaimana seseorang menilai dan menjalani kehidupan ini. Tak perlu kita pusing mencoba memahami teori relativitasnya Einstein, bila memang tak paham; karena di sekitar kita banyak contoh yang menunjukkan bahwa waktu memang relatif. Bagi seorang pedagang serabi di kampung saya, sehari untung 50 ribu pastilah luar biasa; kalau tidak mau dikatakan sebagai hil yang mustahal. Tapi seorang bos perusahaan berskala internasional, tiap hari dapat hasil 3 juta barangkali belum seberapa. Bagi seorang koruptor, lain lagi cerita; hitung-hitungannya tak lagi pake digit juta, tapi trilyun. Pasti susah ya menghitungnya? Asal tahu saja, andai tiap satu hitungan kita memerlukan waktu satu detik, maka akan butuh waktu 31.668 tahun untuk sampai hitungan 1 trilyun.  Barangkali hukuman paling berat bagi seorang koruptor adalah disuruh berhitung dari nol sampai angka korupsinya.

Nah, itu tadi bila patokannya ‘waktu adalah uang.’

Yang pasti, bagaimanapun kita memaknai arti waktu, ia sangatlah berharga. Apa lagi bila masalahnya adalah rindu, betapa yang sesaat menjadi begitu penting, andai bisa bertemu. Maka seorang pecinta akan berkata ‘meski hanya sekejap mata, aku ingin jumpa.’

Anehnya, manusia sering mengkambinghitamkan waktu atas kesalahan pribadinya. Bila ada orang tua sakit rindu terhadap anak-anaknya, waktulah yang menjadi alasan; anak-anaknya itu sibuk dengan urusan masing-masing. Bila ada anak-anak tak cukup mendapat kasih sayang dari orang tua mereka, waktu juga menjadi alasan; orang tua sibuk bekerja. Bila banyak pekerjaan rumah terbengkelai, waktu juga dituduh bersalah.

‘Tak ada waktu,’ kalimat yang biasa digunakan untuk berkilah. Padahal masalah sesungguhnya hanyalah keengganan, kelalain, ketidakseriusan, atau ketidakmampuan mengelola diri. Sebab itu banyak tugas tak terselesaikan, banyak kewajiban tak tertunaikan, banyak pihak yang membutuhkan terabaikan dan banyak kesempatan hilang ditelan waktu.

Kini sudah saatnya untuk jujur pada diri. Bila ada hal-hal yang tak mampu kita selesaikan dengan tuntas, jangan lagi salahkan waktu. Makhluk yang sangat berharga bernama waktu itu telah menjalani tugasnya dengan baik. Ia terus bergulir, tanpa mempercepat atau memperlambat lajunya. Apa lagi berhenti, tidak sama sekali. Manusialah yang lebih sering mengkhianatinya. Meski waktu tak lelah memberi kita kesempatan, manusia justru terlalu sering manjadikannya kambing hitam atas kelalaian sendiri.  Maka mulai saat ini, berhentilah menyalahkan waktu!

Merindukan Air Mata

Air mata barangkali identik dengan tangis. Memang, ia lebih banyak keluar karena tangis. Meski ada beberapa hal lain yang menyebabkannya, seperti kepedasan, mata kelilipan, atau disemprot gas air mata.

Saat ini saya sedang merindukan air mata. Bukan air mata orang lain tentu saja, malainkan air yang keluar dari mata saya sendiri. Ya, saya ingin sekali menagis. Bukan ingin bersedih hati, karena tangis tak selalu berarti kesedihan. Pun begitu, ada kesedihan juga tak selalu berarti buruk. Terkadang, ada perlunya juga untuk bersedih. Seperti ketika dosa-dosa terlanjur diperbuat, sungguh telah mengeras hati bila tak menangisinya. Sayangnya, hal itulah yang kini menimpa diri ini.

Sungguh telah terlalu banyak dosa saya perbuat. Mungkin juga telah terlalu keras hati ini, hingga saya tak mampu menangis. Telah kucoba beberapa kali, duduk lama setelah shalat, mengulang-ulang istighfar. Tapi tetap, mata ini belum mau mengucurkan air mata. Alih-alih, berkaca pun tidak. Padahal di saat menangislah saya benar-benar dapat merasakan tentang luasnya ampunan dan melimpahnya rahmat Allah. Nikmat benar ketika air mata dapat membajir, teringat akan dosa-dosa, berharap ampunan dan kasih sayang-Nya. Tak hanya pipi yang basah, bahkan hati terasa sejuk; lega.

Lebih nikmat lagi, ketika air mata penyesalan telah berganti air mata syukur. Betapa indah kehidupan ini dibentangkan oleh-Nya. Terlalu banyak yang lupa kita syukuri. Maka ketika hati tersadar akan kemahadahsyatan karunia Allah itu, isyak pun terhenti, berganti tangis yang mengalun nikmat. Pernahkah kau merasakannya? Kini saya merindukannya.

Setelah puas menangis syukur, maka hati terasa benar-benar telah basah. Tak ingin lagi berbuat durjana. Yang ada keinginan untuk selalu berbuat yang terbaik. Ingin memberi dan memberi, beramal dan beramal. Pikirpun terasa lebih jernih. Bahkan tubuh juga lebih fresh. Siap untuk menjalani hari yang lebih baik. Ternyata, tersimpan kekuatan luar biasa dalam tangis manusia. Karena itu wahai Allah Yang Maha Agung, ijinkan aku menangis karenaMu malam ini. Aku rindu….

 

"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan kekhusyuan mereka bertambah." (QS. Al-Israa’:109)

 

"Barang siapa yang mengingat Allah kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan diazab pada hari kiamat kelak"

 (HR. Al-Hakim) 

Apa Hendak Aku Bilang?

Kelak, ketika tiada lagi kesempatan untuk berpura-pura baik dan menutupi- kejelekan diri, kemana hendak aku berlari untuk bersembunyi dari rasa malu? Kelak ketika aku tak lagi dapat berbohong dan membela diri dari setiap kesalahan yang dituduhkan padaku, kemana hendak aku berlindung untuk menghindar dari siksa yang tak terbayangkan?

Kelak bila aku ditanya, “Kamu habiskan untuk apakah hidupmu di dunia?”, apa hendak aku bilang? Akankah kujawab; “Untuk nonton TV, untuk main game, untuk bersendau gurau, untuk melamun, untuk bergosip, untuk mengejar pria/wanita, , untuk berebut harta, dan berbuat segala nista.”?

Kelak bila aku ditanya, “Kamu gunakan untuk apakah rezki yang Aku karuniakan kepadamu?”, apa hendak aku bilang? Akankah aku bilang, “Untuk senang-senang; untuk biaya pacaran, untuk beli VCD bajakan, untuk koleksi mainan, untuk taruhan, untuk makan yang berlebihan, untuk foya-foya dan hura-hura, untuk segala hal yang sia-sia.”?

Kelak bila aku ditanya, “Kamu gunakan untuk apakah mulut kamu ketika di dunia?” apa hendak kujawab? Akankah aku bilang, “Untuk bicara dusta, untuk pura-pura, untuk membeberkan kekeliruan orang, untuk menfitnah, untuk menghina, untuk mencela, untuk marah-marah yang tak pada tempatnya, atau untuk asal bicara?”

Kelak bila aku ditanya, “Sering kamu gunakan untuk apakah mata kamu ketika di dunia?” apa hendak aku jawab? Akankah kubilang; “Untuk mengagumi kecantikan/kegantengan, untuk menatap aurot orang, untuk menyelidiki kejelekan orang, atau untuk melototi anak-anak yang tak sungguh bersalah.”?

Kelak bila aku ditanya, “Kemanakan kakimu sering kamu langkahkan ketika hidup di dunia?”, apa hendak aku jawab? Akankah aku bilang; “Ke tempat-tempat yang mengajak zina, ke tempat konser musik, ke pusat perbelanjaan, ke tempat-tempat hiburan, juga ke tempat orang-orang berbuat kesyirikan.”

Nyatanya, kita teramat sedikit mengisi hidup ini dengan kebaikan. Kapankah kita sungguh-sungguh mempelajari al-Qur’an, kapan shalat dengan khusuk, kapan berdakwah, kapan membantu orang yang kesulitan, kapan memberi makan yang kelaparan, kapan berpikir untuk kemajuan umat manusia? Ya, kapan?!

Barangkali itu terlalu muluk, kalau begitu yang sederhana saja. Kapan tersenyum dengan tulus kepada saudara, kapan mengucap terima kasih ketika dibantu, kapan minta maaf ketika berbuat salah, kapan memberi hadiah tanpa berharap sesuatu (balasan), kapan mengisi kotak infak masjid dengan sepenuh ikhlas? Ah, sungguh tak sebading dengan banyaknya dosa yang kita tumpuk.

Maka, mumpung masih ada kesempatan, mari kita berusaha untuk terus-menerus berbuat yang terbaik, sesederhana apapun kebaikan itu. Mudah-mudahan, hal ini akan dapat menutup segala khilaf yang kita perbuat. Mudah-mudahan, kebaikan sederhana yang kita perbuat dapat memberi manfaat bagi orang lain. Dan yang lebih penting, mudah-mudahan kebaikan sederhana itu mengandung nilai yang besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hati-hati Spyware dapat Menyerang HATI

Kita telah sering mendengar tentang tiga kondisi manusia. Ada qalbun salim, qalbun maridh dan qalbun mayyit. Hati yang sehat, hati yang sakit dan hati yang mati. Bila kita ibaratkan kembali, ada komputer yang bersih dari virus ataupun spyware, sehingga program-programnya dapat berjalan sebagaimana mestinya. Akan tetapi seringkali virus menyerang tanpa permisi. Program-program dalam komputer memang masih dapat digunakan, tapi error di sana sini. Misalnya file-file yang berexstention doc berubah menjadi application. Tulisan di dalamnya berganti-ganti sesuai perintah virus. Nah, repot. Lebih parah lagi bila terserang virus yang lebih ganas. Tiba-tiba program yang telah terinstal bisa macet sama sekali. Ketika dibuka tak bisa loading. Lebih-lebih virus yang dapat menyerang system BIOS dan merusak hardware, dapat mengakibatkan komputer sama sekali tak bisa dipakai.

Nah, mari kita kembali ke hati. Hati yang sehat tentu saja hati yang masih dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan benar. Dengan qalbun salim manusia akan dapat menyerap ilmu dan hikmah, mencintai Allah, beribadah kepada-Nya dan merasakan kelezatan dengan mengingat-Nya.

Maka, dengan hati yang sehat, kita akan terus cenderung pada kebaikan. Ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca mudah kita cerna kandungannya, hadist Rasulullah dapat kita tauladani. Kita pun semakin peka dengan apa yang kita lihat, apa yang kita denganrdan apa yang kita temui setiap saat, sehingga di mana pun kita berada, selalu ada hikmah yang dapat dipetik. Ketika masyarakat sekitar banyak berbuat kekeliruan, menjauh dari aturan-aturan Allah misalnya, maka hati yang sehat selalu peka. Ia pun merasa ada yang mesti dibetulkan, bukan ikut hanyut dalam kekeliuran-kekeliruan serupa. Atau kita dia sendiri yang terlanjur bebuat kesalahan, akan timbul kegundahan di hati, hingga ia berhenti berbuat salah, beristighfar dan mengapus jejak kekeliruan dengan timbunan kebaikan. Ingat fungsi autocorect pada hati?

Hati yang sehat juga akan cenderung mencintai Allah, merasakan kenikmatan beribadah dan berdzikir kepada-Nya. Kecintaan kepada selain Allah akan tertepis, bila itu bertentangan dengan kecintaan terhadap-Nya. Maka dengan hati yang sehat, manusia akan terhindar dari ketergelinciran akibat kecintaan terhadap syahwat. Bagaimana mungkin akan berbohong, mencuri atau berzina misalnya, kalau yang dicinta adalah Allah. Sedang Allah telah mengharamkan semua itu. Akankah seorang pecinta melakukan hal-hal yang dibenci oleh kekasihnya?

Namun berhati-hatilah dengan hati. Kadang ia tak lagi memiliki kepekaan positif. Kemungkinan hati itu sedang sakit, atau bahkan telah mati. Sebagaimana anggota tubuh manusia lainnya, bila sedang sakit, hati menjadi tak mampu menjalankan fungsinya, atau dapat menjalankan fungsinya, tetapi terjadi ketidakstabilan.

Dengan qalbun salim, hati yang sehat, kita akan mampu menangkap hikmah dari bacaan al-Qur’an, hadits Rasulullah, buku yang dibaca, atau kisah-kisah hidup manusia. Akan tetapi banyak orang diperdengarkan al-Qur’an setiap saat, atau bahkan membacanya sendiri, tapi tak merasakan sesuatu, tak ada perubahan pada dirinya dan tak ada ilmu yang diserap oleh jiwanya.

Betapa beda dengan kondisi orang-orang shalih yang telah mendahului kita. Ketika diperdengarkan al-Qur’an, mereka menyungkur sujud, menangis karena merasakan keagungan dan kebenarannya.

”Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni'mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)

Hati yang sehat akan menempatkan cinta kepada Allah sebagai cinta tertinggi, ibadah kepadaNya sebagai hiburan paling mengasyikkan. Akan tetapi hati yang sakit, qalbun maridh tak lagi dapat merasakan hal demikian. Hati yang sakit justru cenderung mencintai selain Allah, merasakan ibadah sebagai beban, bukan hal yang menyenangkan. Sangat buruk keadaan ini, sebagaimana Allah menggambarkan tentang keadaan orang-orang munafik yang meminta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut berjihad di jalan Allah dengan berbagai alasan yang disengaja.

”Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak  menafkahkan  mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At-Taubah: 54)

Al-Ghazali memberi kiasan yang menohok kesadaran kita. Bagaimana dengan perut yang tak lagi selera dengan makan dan minum? Bagaiman jika perut tak lagi suka dengan roti atau nasi dan air, tapi justru lebih suka tanah atau batu? Tentu perut itu telah sakit. Begitulah, bila hati kita lebih mencintai selain Allah, pastilah hati kita sedang sakit. Atau bila hati kita seakan terselubungi kegelapan, sehingga sulit dimasuki hikmah, pastilah hati kita juga sedang sakit.

Lebih parah lagi qalbun mayit. Hati yang telah mati tak lagi mampu menangkap hikmah, tak mampu menyerap ilmu, tak lagi merasakan cinta kepada Allah, apalah lagi merasakan kelezatan beribadah dan berdzikir kepadaNya, tidak sama sekali. Seumpama anjing, hati yang mati tak mampu lagi membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, bebal sama sekali. Bila engkau menghalunya maka anjing itu menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya dia menjulurkan lidahnya pula.

Maka, hati yang mati justru cenderung pada dunia dan kelezatan syahwat, cenderung pada dosa dan perbuatan maksiat. Na’udzubillah, mudah-mudahan kita terhindar dari yang demikian itu.

abcs