Pulang


Bila Bulan Ramadhan hendak berlalu, segera saja radio dan televisi menyiarkan berita yang menjadi hangat; arus mudik. Apa lagi bila Lebaran tinggal beberapa hari lagi, arus mudik semakin memenuhi ruang berita.
Mudik merupakan fenomena yang cukup unik di Indonesia. Mayoritas perantau pulang ke kampung halaman masing-masing pada moment ’Idul Fitri ini. Begitupun orang-orang yang sudah tinggal di luar kampung halamannya. Mereka berduyun pulang ke tempat kelahiran.
Tak peduli berapa biaya yang diperlukan, tak malas karena libur yang hanya beberapa hari, tak enggan berebut tiket, tak merasa benci karena harus berdesakan di bus atau kereta, juga tak takut ketika harus naik motor boncengan dari Jakarta ke Surabaya. Pokoknya mudik harus diusahakan. Mudik seakan telah menjadi kewajiban atau paling tidak amalan sunnah muakad. Ada kesedihan merasuk hati, kalau tak bisa ikut mudik Lebaran tahun ini.
Tahun ini adalah pertama kalinya Maman ikut merasakan mudik. Pada Lebaran kali ini, Maman dan istrinya merencanakan untuk shalat ’Idul Fitri di kampung halaman istri. Karena ini Lebaran pertama yang akan mereka jalani bersama, Maman harus ikut syawalan keluarga besar istrinya. Oleh itu mereka  hendak ke pulang ke orang tua Maman pada H+1. Saat keputusan itu mereka ambil, ada rasa yang merasuk dada Maman. Sedih, ingin rasanya mudik sebelum tanggal 1 Syawal.
Saat kepulangan memang selalu dinanti. Lihatlah anak kecil yang diajak bepergian. Apa yang dia pinta? Selain jajan, biasanya adalah pulang. “Ma, pulang ma! Sekarang ma!” Malah Maman pernah bercerita tentang Si Acim, salah satu keponakannya ketika merengek minta pulang ke Jogja pada abi-nya. Saat itu malam hari di sebuah kampung dekat jalur utama Pantura, rumah mertua Maman. “Bi, pulang bi!” Si abi yang juga kakak Maman itu pun memberi kalimat negosiasi; “Ya besok ya kalau sudah pagi.” Namun Acim tak menyerah; “Sekarang bi, pulang bi!” Kata abi-nya lagi; “Iya besok, sekarang nggak ada mobil!” Dengan enteng Acim pun membalas; “Naik motor!”
Jangankan anak kecil, manusia dewasa saja sering sangat merindukan pulang. Bahkan bukan hanya orang-orang seperti kita yang selalu rindu pulang, Rasulullah dan para shahabat pun rindu pulang ke kampung halaman. Bilal yang begitu teguh melawan derita di Mekah, harus melantunkan baris-baris puisi sendu ketika harus berhijrah ke Madinah. Padahal baru sesaat Bilal meningalkannya. Padalah, negeri yang ditinggalkannya itu telah menggoreskan seribu luka.
O, betapa haruskah
Kulalui malam ini pada lembah
Yang tiada padanya Idzkir
Dan tiada pula Jalil”
Seribu kenangan tentang kampung halaman tersusun rapi dalam benak kita. Pada saat-saat tertentu, kenangan itu berhamburan dan membuat kita terhanyut. Kemudian tertawa, haru, atau sendu....
Betapapun pahit kehidupan yang pernah dilalui, kampung halaman selalu menumbuhkan pohon rindu. Apa lagi bila keluarga dan kerabat masih tinggal di sana. Maka Ebit pun bersenandung. “Aku ingin pulang. Aku harus pulang. Aku ingin pulang. Aku harus  pulang.”
Kampung halaman dan rumah sendiri adalah tempat yang selalu memberi ketenangan. Kesejukan. Betapapun nikmat dan fasilitas yang didapat di luar sana, kepulangan selalu menjadi saat yang paling dinanti. Maka tak heran kalau ungkapan “home sweet home” begitu populer. Selain itu kita juga sangat akrab dengan ungkapan “Baiti jannati” , “Rumahku Surgaku.”
Ada kerinduan yang jauh lebih besar semestinya dimiliki oleh setiap muslim. Rindu kampung Surga. Kata para ulama, rumah kita yang sebenarnya bukan di sini, di dunia ini. Rumah kita sesungguhnya ada di Surga. Maka, perjalanan hidup ini adalah perjalanan pulang ke Surga. Di Surga nanti, kita akan berkumpul kembali dengan saudara-saudara yang benar-benar saudara. Bukan saudara yang hanya di mata, sementara hatinya penuh benci. Bukan pula saudara yang jelas-jelas meneriakkan permusuhan terhadap kita. Saudara di Surga adalah saudara tanpa dengki, tanpa iri,  tanpa sikap menjilat, tanpa kebencian dan tanpa permusuhan. Saudara di Surga adalah saudara penuh cinta, saudara dalam arti sesungguhnya.... Tidakkah kau rindu untuk segera ke sana?
Ternyata ungkapan itu benar. Rumahku Surgaku. Ya, rumahku Surgaku, karena rumahku yang sesungguhnya ada di Surga.
Karen itu sahabat, mari kita lakukan yang terbaik untuk perjalanan pulang ini. Alangkah ruginya bila seseorang baru tiba di rumah sesungguhnya setelah tersesat ke neraka. Lebih-lebih, alangkah ruginya orang yang tak pernah sampai kembali ke rumahnya, di Surga sana.
Sahabat, selamat menempuh perjalanan pulang. Semoga kau akan segera menemukan kebahagiaan hidupmu di rumah yang sesungguhnya. Semoga segera kau dapati kebahagiaan abadi di Surga sana.
Maaf, tadi bukan doa agar kau cepat mati loh!

Aku Bukan Guru, Hanya Teman Bermain


Menyaksikan SID the Science Kid, film pendek berseri hadiah dari Dancow membuatku berpikir; keren sekali kalau benar-benar ada sekolah semacam itu.
Di sekolah khayali itu, anak-anak hanya bermain sesuka hati, tapi banyak ilmu yeng mereka serap. Mereka diberi kebebasan untuk bereksplorasi, bertanya tentang apa saja yang ingin diketahui, lalu berusaha mencari jawabannya sendiri. Guru hanya mengarahkan dan memberi kesimpulan.
Untuk mengetahui satu hal, anak-anak cerdas di sekolah itu selalu belajar berpindah-pindah. Dari ruang kelas, ke ruang laboratorium, lalu keluar ke laboritorium alam, lalu kembali ke kelas. Terakhir, guru bernyanyi. Bukan sembarang lagu, tapi nyanyian yang berkait erat dengan apa yang sedang mereka pelajari.
Ah, teringat aku ketika jiwa sedang lelah. Bentak-bentak anak, tapi yang dibentak gak ngerti-ngerti juga. Sudah tahu guru sedang marah besar, bersuara keras dan mata melotot, tapi yang dipelototi justru tertawa. Lalu kuteriaki lagi, baru ngeh, lalu diam. Aku lanjutkan mengajar. Baru beberapa detik saja, anak yang tadi kupelototi sudah berdiri, lari-lari, bermain lagi...
Ah, marah memang sama sekali bukan cara tepat untuk mendidik.
Ketika pun harus marah, mestinya adalah marah cinta. Marah benar-benar karena ingin memberi pemahaman, bukan hanya karena dibuat repot oleh ulah mereka. Maka dalam marah yang demikian, aku lebih memilih diam sesaat, lalu mengeluarkan amarah dari hati, ke hati. Tak perlu membentak, tak perlu melotot, apa lagi memukul. Anak-anak pun diam mendengarkan, tak berani macam-macam. Tapi juga entahlah. Apakah yang aku sampaikan dapat tersimpan pada jiwa mereka?
Yang demikian memang tak sering terjadi, dan mudah-mudahan takkan menjadi sering. Sejujurnya, aku lebih suka bermain-main dengan mereka, anak-anakku yang lucu, lugu... dan kadang pengen aku "gigit" semua....
Tak pernah terbanyang dulu, bahwa pada namaku akan tersemat status guru, sebagaimana tak juga pernah terbayang bahwa aku dapat mengaku seorang PENULIS.
 Sejujurnya, mungkin setatus guru tak layak buatku. Pertama, mula-mula masuk SDIT Buah Hati Pemalang, aku hanya dilamar jadi TU. Tapi karena masih pula butuh guru, tak berapa lama kemudian aku pun disuruh mengajar. Mulai dari TIK; Teknologi Informasi dan Komunikasi, ekskul jurnalistik, ekskul pramuka, hingga tahfidz al-Qur’an. Kadang-kadang ikut pula njebur saat anak-anak belajar renang.
Kedua, gelar S.Pd hingga saat ini belum kupunya. Rasanya memang tak ingin punya. Meski teman-teman sekantor yang belum punya S.Pd kini pada kuliah lagi. Aku kok pengennya S2. Semoga, suatu saat...
Ketiga, itu tadi, aku lebih suka bermain-main dengan mereka dari pada mengajar.
Pernah engkau melihat ada guru yang ketika masuk kelas langsung dikeroyok peserta didiknya? Baru saja masuk anak langsung menyerbu, menubruk. Ada yang naik meja, lalu meloncat, juga menubruk gurunya. Kalau keteranganku ini agak sulit engkau mengerti, bolehlah engkau bayangkan adegan smack down. Cukup mirip lah, gurunya di KO. Nah, aku pernah menyaksikan yang demikian itu. Mala akulah yang sedang di-smack donw.
Dengan gaya yang aneh-aneh, akupun sering membuat anak-anak GERR... Aku senang. Sungguh lebih nikmat melihat mereka tertawa lepas dari pada mengurus anak yang menangis, merengek tak jelas.
Tak hanya di kelas. Ketika anak-anak bermain, kadang aku nimbrung. Anak-anak main loncat tali, aku ikut loncat. Anak-anak main bola, aku ikut menendang. Anak ngajak main tertentu, aku layani. Misalnya ketika ada yang mengajak pandeng-pandengan (tatap-tatapan), yang kedip kalah. Aku layani saja dengan perubahan aturan, yang senyum kalah......
Spontan, spontan, spontan Yang satu ini insya Allah dapat membangun kedekatan dengan anak-anak.
Ah, masih banyak sekali kekurangan. Aku belum bisa benar-benar menjadi teman bermain mereka. Teman bermain yang profesional, produktif dan mencerahkan. Apa lagi menjadi guru. Apa lagi menjadi pendidik.
Maafkan aku, teman-teman bermainku...
Mungkin inilah saatnya. Saatnya Belajar jadi GURU Sejati.

Akhir Ramadhan Bagi Bu Endang

Di samping mempersiapkan kebutuhan lebaran, sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan adalah waktu untuk terus-menerus memperbanyak amal. Begitu pula yang di lakukan Bu Endang. Satu hal yang tak pernah dilupakanya; bersedekah. Kepada ibu asli dan ibu mertuanya Bu Endang selalu mengirimkan sejumlah belanjaan. Isinya biasanya berupa kue-kue untuk lebaran ditambah selendang.

Ini mungkin sebuah pemandangan biasa. Banyak orang yang memberi lebih kepada orang tua mereka. Yang tak biasa, Bu Endang tak hanya memberikan belanjaan itu kepada orang tuanya. Menjelang lebaran, minimal enam keluarga mengisi daftar untuk Bu Endang untuk dikirim belanjaan. Dua yang tadi sudah disebut. Dua lagi bude (adik dari ibu aslinya), satu kakak, dan satunya lagi kakak dari suaminya. Seringkali beberapa pihak lain juga mendapat jatah.

Ketika ibu kandung dan ibu mertuanya telah meninggal, Bu Endang tetap meneruskan kebiasaannya kepada beberapa pihak lain yang tadi disebut. Kirimannya hampir selalu sama; kue lebaran di tambah selendang, sarung atau pakaian lainnya. Meski Bu Endang sendiri jarang sekali membeli pakaian baru untuk dirinya. Kalau waktu lebaran Bu Endang mengenakan setelah kebaya baru, paling-paling hadiah dari tempat belanja langganannya.

Untuk ukuran seorang ibu yang tinggal di kampung tertinggal, penghasilan Bu Endang tidaklah banyak. Dari jualan sayur dan kebutuhan sehari-hari, hasil Bu Endang itu barangkali tak lebih dari sepuluh ribu setiap harinya. Sedang suaminya yang tak lagi bekerja. Karena bukan pensiunan, suaminya tentu juga tak lagi memberi nafkah. Bila dihitung-hitung, kebutuhan untuk memberikan belanjaan untuk satu pihak jelas berkali lipat dari hasil dagangnya setiap hari. Hanya saja, Bu Endang masih merasa lebih beruntung secara ekonomi dari pihak-pihak yang disedekahinya minimal setahun sekali itu.

Bu Endang selalu mengajak anak bungsunya yang masih kecil ketika mengantarkan sendiri belanjaan-belanjaan sedekah itu. Ketika Maman, anak bungsunya itu telah menginjak usia SD, dialah yang bertugas untuk mengantar belanjaan itu kepada semua yang berhak. Biasa; Mbak Kromo dan Mbak Somo yang tinggal sendirian, Mbak Karto, Mbah Towi, Bu Diyah dan Bu Roijah. Semua mendapat jatah yang hampir sama.

Kebiasaan itu berlangsung terus. Ketika si Maman telah lulus kuliah, ia masih sempat mengantarkan sedekah yang hampir sama titipan emaknya. Meski kini tinggal tiga pihak yang tersisa, karena tiga lainnya telah meninggal. Tapi tentu, di luar nama-nama wajib tersebut, masih ada pihak-pihak lain yang mendapat jatah sedekah Bu Endang.

Ini hanya satu sepenggal kisah dari seorang ibu di sebuah kampung kecil. Di samping itu tentu lebih banyak lagi kedermawanan Bu Endang, yang tak terkisahkan. Beruntunglah saya mendapat pelajaran ini, karena Bu Endang yang saya ceritakan adalah ibu kandung saya. Sedang si Maman, tentulah saya sendiri.

Tina & Bapaknya


“Lihat tuh..! kikiki...”
“Wakakak...”
Teman-temanku ikut tertawa ketika kutunjuk si Tina. Anak manja itu seperti biasa, diantar bapaknya ke sekolah pakai motor. Kayak anak SD aja. Tapi bukan itu yang membuat kami tertawa. Bapaknya tidak cukup mengentar si Tina sampai depan gerbang sekolah, tapi sampai depan kelas. Turun dari motor, Tina mengandeng tangan bapaknya erat-erat. Lucu sekali. Kalau saja umurnya tidak kelihatan beda tiga puluhan tahun, anak-beranak itu pasti dikira sepasang kekasih. Atau kalau saja tidak di sekolahan, barang kali orang akan mengira kalau si Tina adalah anak nakal yang mau saja diajak ke mana-mana sama om om.
Nyatanya itu si Tina dengan bapaknya..., lucu sekali.
Iya, Tina memang lucu. Lucunya lagi dia bisa jadi sahabat baikku. Kok bisa ya? Kadang aku berpikir begitu. Aku ini bisa dibilang rada tomboy dan urakan. Pokoknya 180% kalau dibandingin sama si Tina. Apa lagi dalam urusan yang tadi. Ah, nggak mungkin banget aku bakal kayak si Tina. Gandengin bapakku ke mana-mana? Ih, amit-amit.
Sebenarnya Tina anaknya sangat baik. Dia peduli dengan masalah-masalah yang sedang dihadapi teman-temannya. Maka meski aneh, terutama dalam hal gandeng-gandeng tangan bapaknya itu, si Tina tetap punya banyak sahabat. Malah aku sendiri adalah sahabat terdekatnya.
Di samping itu, Tina anak yang berprestasi. Juara di kelasku. Kalau ada PR, Tinalah rujukan pertama untuk dimintai contekan.., hehe. Terutama PR matematika. Sebenarnya bukan contekan sih. Soalnya kalau ada yang mau mencontek PRnya, Tina selalu memastikan anak itu paham dulu. Dia terangkan dulu cara mengerjakan PR itu sejelas-jelasnya – macam bu guru saja – baru boleh dicontek. Mungkin rada soksokan, tapi memang berguna. Minimal anak-anak macam diriku yang anti matematika begini jadi ngerti dikit.
Yang paling tidak kumengerti adalah hubungan Tina dengan bapaknya itu. Mirip betul sepasang kekasih. Sebenarnya aku sering risih. Saat pulang sekolah, kami lagi jalan bareng, tiba-tiba muncul bapaknya..., langsung deh Tina cium tangan terus gandengan sama bapaknya itu.
“Sampai ketemu besok ya...,” begitu saja, terus ngacir sama bapaknya.
Dalam hal ini, Tina memang anak yang aneh. Aku benar-benar tak mengerti. Hingga suatu hari...
Aku tak mengerti. Tina yang kehilangan, tapi hatiku iku teriris-iris. Air mataku tak terbendung, tumpah. Surat ijin tidak berangkat dari Tina sampai ke sekolah, dengan catatan, bapaknya meninggal dunia sebab serangan jantung.
Allah...
Aku tahu betapa Tina mencintai bapaknya. Dia nomor satu dalam hal ini. Dan kini bapaknya pergi... Betapa Tina pasti sangat kehilangan. Aku tak tahu, kenapa jadi ingin melihat sahabatku itu menggandeng tangan bapaknya lagi...
Aku... Betapa aku tidak berbakti kepada ayahku. Memikirkannya saja jarang sekali. Astaghfirullahal’adzim...
 

Raih Kesempatan Mendapatkan Buku GRATIS

Tak hanya apik dan menarik, tapi buku ini juga sarat hikmah. Kisah nyata yang disajikan dari dua kacamata, kacamata seorang suami dan kacamata istri memberi warna-warni tersendiri. Bagaimana seorang suami menilai sebuah konflik dan seorang istri menilai konflik yang sama dengan cara berbeda. Ketegangan-ketegangan yang muncul sungguh bagaikan novel, seru. Insya Allah, membaca buku ini akan banyak memberimu pelajaran, juga keasyikan.


Kisah nyata ini dituturkan secara jujur, tiada yang disembunyikan. Maka di sana ada kegelisahan, kemarahan, kegamanan, haru-biru..., bahagia, juga CINTA.


Dalam buku ini penenulis menceritakan tentang peliknya permasalahan ketika hendak mengarungi hidup baru, PERNIKAHAN, hingga tahun pertama membina hidup berrumah tangga. Banyak pelajaran yang dapat diambil. Hal-hal yang sepertinya sederhana ternyata mengandung hikmah yang tak ternilai harganya.


Buku ini sangat cocok dibaca, terutama bagi engkau yang segera menuju pernikahan, bagi pasangan-pasangan bulan madu, ataupun keluarga-keluarga muda yang hendak membina rumah tangga dengan penuh cinta. Di luar itu, siapapun boleh baca dan silahkan mengambil hikmahnya.


Silahkan pesan SEGERA! Untuk 25 pemesan/pembeli pertama akan diundi dan berkesempatan meraih buku GRATIS dari Rahman Hanifan.




Cara membeli buku:

1. Silahkan memesan dan tinggalkan alamat ke rahmanhanifan@gmail.com

2. Kami akan memberikan total harga (harga buku 43.000 plus ongkos kirim via JNE dari Jakarta)

3. Silahkan tranfer ke rek BCA: 1281597251 atas nama: Aulia Halimatussadiah

4. Silahkan konfirmasi pembayaran dan lampirkan bukti tranfer (slip transfer, bukan struk ATM) ke rahmanhanifan@gmail.com dan cc-kan ke admin@nulisbuku.com (Ini wajib dilakukan karena kalau tidak, pesanan tidak akan diproses)

5. Silahkan tungguh kiriman bukunya.

atau boleh juga pesan langsung di sini

http://nulisbuku.com/books/view/magelang-pemalang-via-sydney

WHEN TOMORROW STARTS WITHOUT ME

When tomorrow starts without me
And I'm not there to see,
If the sun should rise and find your eyes
All filled with tears for me;

I wish so much you wouldn't cry
The way you did today,
While thinking of the many things,
We didn't get to say.

I know how much you love me,
As much as I love you,
And each time that you think of me,
I know you'll miss me too;

But when tomorrow starts without me,
Please try to understand,
That an angel came and called my name,
And took me by the hand,

And said my place was ready,
In heaven far above,
And that I'd have to leave behind
All those I dearly love.

 

But as I turned to walk away,
A tear fell from my eye
For all my life, I'd always thought,
I didn't want to die.

 

I had so much to live for,
So much left yet to do,
It seemed almost impossible,
That I was leaving you.

I thought of all the yesterdays,
The good ones and the bad,
I thought of all the love we shared,
And all the fun we had.

If I could relive yesterday,
Just even for a while,
I'd say good-bye and kiss you
And maybe see you smile.

But then I fully realized,
That this could never be,
For emptiness and memories,
Would take the place of me.

 And when I thought of worldly things,
I might miss come tomorrow,
I thought of you, and when I did,
My heart was filled with sorrow.

 

But when I walked through Heaven's gates,
I felt so much at home.
When God looked down and smiled at me,
From His great golden throne

 

He said, "This is eternity,
And all I've promised you.
Today your life on earth is past,
But here life starts a new.

 

"I promise no tomorrow,
But today will always last,
And since each day's the same way
There's no longing for the past.

 

"You have been so faithful,
So trusting and so true.
Though there were times
You did some things
You knew you shouldn't do.

 

"But you have been forgiven
And now at last you're free.
So won't you come and take my hand
And share my life with me."

So when tomorrow starts without me,
Don't think we're far apart,
For every time you think of me,
I'm right here, in your heart.

~By David M. Romano, 1993~

Saatnya Berhenti Menyalahkan Waktu

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SETAHUN coba kau tanya pada murid yang tinggal kelas!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu  SEBULAN coba kau tanya pada ibu yang  melahirkan bayi prematur!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEMINGGU coba kau tanya pada editor majalah mingguan!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEHARI coba kau tanya pada orang yang akan menikah esok hari!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEJAM coba kau tanya pada kekasih yang menunggu untuk bertemu!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEMENIT coba kau tanya pada orang yang ketinggalan pesawat terbang!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEDETIK coba kau tanya pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan!

Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEMILI DETIK  coba kau tanya pada runner up balap motor dunia!

 

Kata orang ‘waktu adalah uang.’ Kata yang lainnya ‘waktu adalah pedang.’ Barangkali seorang pemilik tambak akan mengatakan bahwa ‘waktu adalah udang.’ (Asal jangan kepleset menjadi ‘waktu adalah hutang.’ Makin lama waktu berjalan, makin banyak pula hutang. Cucian deh Abang!)

Relatif memang nilai waktu, tergantung bagaimana seseorang menilai dan menjalani kehidupan ini. Tak perlu kita pusing mencoba memahami teori relativitasnya Einstein, bila memang tak paham; karena di sekitar kita banyak contoh yang menunjukkan bahwa waktu memang relatif. Bagi seorang pedagang serabi di kampung saya, sehari untung 50 ribu pastilah luar biasa; kalau tidak mau dikatakan sebagai hil yang mustahal. Tapi seorang bos perusahaan berskala internasional, tiap hari dapat hasil 3 juta barangkali belum seberapa. Bagi seorang koruptor, lain lagi cerita; hitung-hitungannya tak lagi pake digit juta, tapi trilyun. Pasti susah ya menghitungnya? Asal tahu saja, andai tiap satu hitungan kita memerlukan waktu satu detik, maka akan butuh waktu 31.668 tahun untuk sampai hitungan 1 trilyun.  Barangkali hukuman paling berat bagi seorang koruptor adalah disuruh berhitung dari nol sampai angka korupsinya.

Nah, itu tadi bila patokannya ‘waktu adalah uang.’

Yang pasti, bagaimanapun kita memaknai arti waktu, ia sangatlah berharga. Apa lagi bila masalahnya adalah rindu, betapa yang sesaat menjadi begitu penting, andai bisa bertemu. Maka seorang pecinta akan berkata ‘meski hanya sekejap mata, aku ingin jumpa.’

Anehnya, manusia sering mengkambinghitamkan waktu atas kesalahan pribadinya. Bila ada orang tua sakit rindu terhadap anak-anaknya, waktulah yang menjadi alasan; anak-anaknya itu sibuk dengan urusan masing-masing. Bila ada anak-anak tak cukup mendapat kasih sayang dari orang tua mereka, waktu juga menjadi alasan; orang tua sibuk bekerja. Bila banyak pekerjaan rumah terbengkelai, waktu juga dituduh bersalah.

‘Tak ada waktu,’ kalimat yang biasa digunakan untuk berkilah. Padahal masalah sesungguhnya hanyalah keengganan, kelalain, ketidakseriusan, atau ketidakmampuan mengelola diri. Sebab itu banyak tugas tak terselesaikan, banyak kewajiban tak tertunaikan, banyak pihak yang membutuhkan terabaikan dan banyak kesempatan hilang ditelan waktu.

Kini sudah saatnya untuk jujur pada diri. Bila ada hal-hal yang tak mampu kita selesaikan dengan tuntas, jangan lagi salahkan waktu. Makhluk yang sangat berharga bernama waktu itu telah menjalani tugasnya dengan baik. Ia terus bergulir, tanpa mempercepat atau memperlambat lajunya. Apa lagi berhenti, tidak sama sekali. Manusialah yang lebih sering mengkhianatinya. Meski waktu tak lelah memberi kita kesempatan, manusia justru terlalu sering manjadikannya kambing hitam atas kelalaian sendiri.  Maka mulai saat ini, berhentilah menyalahkan waktu!

abcs