Di samping mempersiapkan kebutuhan lebaran, sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan adalah waktu untuk terus-menerus memperbanyak amal. Begitu pula yang di lakukan Bu Endang. Satu hal yang tak pernah dilupakanya; bersedekah. Kepada ibu asli dan ibu mertuanya Bu Endang selalu mengirimkan sejumlah belanjaan. Isinya biasanya berupa kue-kue untuk lebaran ditambah selendang.
Ini mungkin sebuah pemandangan biasa. Banyak orang yang memberi lebih kepada orang tua mereka. Yang tak biasa, Bu Endang tak hanya memberikan belanjaan itu kepada orang tuanya. Menjelang lebaran, minimal enam keluarga mengisi daftar untuk Bu Endang untuk dikirim belanjaan. Dua yang tadi sudah disebut. Dua lagi bude (adik dari ibu aslinya), satu kakak, dan satunya lagi kakak dari suaminya. Seringkali beberapa pihak lain juga mendapat jatah.
Ketika ibu kandung dan ibu mertuanya telah meninggal, Bu Endang tetap meneruskan kebiasaannya kepada beberapa pihak lain yang tadi disebut. Kirimannya hampir selalu sama; kue lebaran di tambah selendang, sarung atau pakaian lainnya. Meski Bu Endang sendiri jarang sekali membeli pakaian baru untuk dirinya. Kalau waktu lebaran Bu Endang mengenakan setelah kebaya baru, paling-paling hadiah dari tempat belanja langganannya.
Untuk ukuran seorang ibu yang tinggal di kampung tertinggal, penghasilan Bu Endang tidaklah banyak. Dari jualan sayur dan kebutuhan sehari-hari, hasil Bu Endang itu barangkali tak lebih dari sepuluh ribu setiap harinya. Sedang suaminya yang tak lagi bekerja. Karena bukan pensiunan, suaminya tentu juga tak lagi memberi nafkah. Bila dihitung-hitung, kebutuhan untuk memberikan belanjaan untuk satu pihak jelas berkali lipat dari hasil dagangnya setiap hari. Hanya saja, Bu Endang masih merasa lebih beruntung secara ekonomi dari pihak-pihak yang disedekahinya minimal setahun sekali itu.
Bu Endang selalu mengajak anak bungsunya yang masih kecil ketika mengantarkan sendiri belanjaan-belanjaan sedekah itu. Ketika Maman, anak bungsunya itu telah menginjak usia SD, dialah yang bertugas untuk mengantar belanjaan itu kepada semua yang berhak. Biasa; Mbak Kromo dan Mbak Somo yang tinggal sendirian, Mbak Karto, Mbah Towi, Bu Diyah dan Bu Roijah. Semua mendapat jatah yang hampir sama.
Kebiasaan itu berlangsung terus. Ketika si Maman telah lulus kuliah, ia masih sempat mengantarkan sedekah yang hampir sama titipan emaknya. Meski kini tinggal tiga pihak yang tersisa, karena tiga lainnya telah meninggal. Tapi tentu, di luar nama-nama wajib tersebut, masih ada pihak-pihak lain yang mendapat jatah sedekah Bu Endang.
Ini hanya satu sepenggal kisah dari seorang ibu di sebuah kampung kecil. Di samping itu tentu lebih banyak lagi kedermawanan Bu Endang, yang tak terkisahkan. Beruntunglah saya mendapat pelajaran ini, karena Bu Endang yang saya ceritakan adalah ibu kandung saya. Sedang si Maman, tentulah saya sendiri.

Tak hanya apik dan menarik, tapi buku ini juga sarat hikmah. Kisah nyata yang disajikan dari dua kacamata, kacamata seorang suami dan kacamata istri memberi warna-warni tersendiri. Bagaimana seorang suami menilai sebuah konflik dan seorang istri menilai konflik yang sama dengan cara berbeda. Ketegangan-ketegangan yang muncul sungguh bagaikan novel, seru. Insya Allah, membaca buku ini akan banyak memberimu pelajaran, juga keasyikan.
Kisah nyata ini dituturkan secara jujur, tiada yang disembunyikan. Maka di sana ada kegelisahan, kemarahan, kegamanan, haru-biru..., bahagia, juga CINTA.
Dalam buku ini penenulis menceritakan tentang peliknya permasalahan ketika hendak mengarungi hidup baru, PERNIKAHAN, hingga tahun pertama membina hidup berrumah tangga. Banyak pelajaran yang dapat diambil. Hal-hal yang sepertinya sederhana ternyata mengandung hikmah yang tak ternilai harganya.
Buku ini sangat cocok dibaca, terutama bagi engkau yang segera menuju pernikahan, bagi pasangan-pasangan bulan madu, ataupun keluarga-keluarga muda yang hendak membina rumah tangga dengan penuh cinta. Di luar itu, siapapun boleh baca dan silahkan mengambil hikmahnya.
Silahkan pesan SEGERA! Untuk 25 pemesan/pembeli pertama akan diundi dan berkesempatan meraih buku GRATIS dari Rahman Hanifan.
Cara membeli buku:
1. Silahkan memesan dan tinggalkan alamat ke rahmanhanifan@gmail.com
2. Kami akan memberikan total harga (harga buku 43.000 plus ongkos kirim via JNE dari Jakarta)
3. Silahkan tranfer ke rek BCA: 1281597251 atas nama: Aulia Halimatussadiah
4. Silahkan konfirmasi pembayaran dan lampirkan bukti tranfer (slip transfer, bukan struk ATM) ke rahmanhanifan@gmail.com dan cc-kan ke admin@nulisbuku.com (Ini wajib dilakukan karena kalau tidak, pesanan tidak akan diproses)
5. Silahkan tungguh kiriman bukunya.
atau boleh juga pesan langsung di sini
http://nulisbuku.com/books/view/magelang-pemalang-via-sydney
When tomorrow starts without me
And I'm not there to see,
If the sun should rise and find your eyes
All filled with tears for me;
I wish so much you wouldn't cry
The way you did today,
While thinking of the many things,
We didn't get to say.
I know how much you love me,
As much as I love you,
And each time that you think of me,
I know you'll miss me too;
But when tomorrow starts without me,
Please try to understand,
That an angel came and called my name,
And took me by the hand,
And said my place was ready,
In heaven far above,
And that I'd have to leave behind
All those I dearly love.
But as I turned to walk away,
A tear fell from my eye
For all my life, I'd always thought,
I didn't want to die.
I had so much to live for,
So much left yet to do,
It seemed almost impossible,
That I was leaving you.
I thought of all the yesterdays,
The good ones and the bad,
I thought of all the love we shared,
And all the fun we had.
If I could relive yesterday,
Just even for a while,
I'd say good-bye and kiss you
And maybe see you smile.
But then I fully realized,
That this could never be,
For emptiness and memories,
Would take the place of me.
And when I thought of worldly things,
I might miss come tomorrow,
I thought of you, and when I did,
My heart was filled with sorrow.
But when I walked through Heaven's gates,
I felt so much at home.
When God looked down and smiled at me,
From His great golden throne
He said, "This is eternity,
And all I've promised you.
Today your life on earth is past,
But here life starts a new.
"I promise no tomorrow,
But today will always last,
And since each day's the same way
There's no longing for the past.
"You have been so faithful,
So trusting and so true.
Though there were times
You did some things
You knew you shouldn't do.
"But you have been forgiven
And now at last you're free.
So won't you come and take my hand
And share my life with me."
So when tomorrow starts without me,
Don't think we're far apart,
For every time you think of me,
I'm right here, in your heart.
~By David M. Romano, 1993~
Kalau pengen tahu pentingnya waktu SETAHUN coba kau tanya pada murid yang tinggal kelas!
Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEBULAN coba kau tanya pada ibu yang melahirkan bayi prematur!
Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEMINGGU coba kau tanya pada editor majalah mingguan!
Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEHARI coba kau tanya pada orang yang akan menikah esok hari!
Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEJAM coba kau tanya pada kekasih yang menunggu untuk bertemu!
Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEMENIT coba kau tanya pada orang yang ketinggalan pesawat terbang!
Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEDETIK coba kau tanya pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan!
Kalau pengen tahu pentingnya waktu SEMILI DETIK coba kau tanya pada runner up balap motor dunia!
Kata orang ‘waktu adalah uang.’ Kata yang lainnya ‘waktu adalah pedang.’ Barangkali seorang pemilik tambak akan mengatakan bahwa ‘waktu adalah udang.’ (Asal jangan kepleset menjadi ‘waktu adalah hutang.’ Makin lama waktu berjalan, makin banyak pula hutang. Cucian deh Abang!)
Relatif memang nilai waktu, tergantung bagaimana seseorang menilai dan menjalani kehidupan ini. Tak perlu kita pusing mencoba memahami teori relativitasnya Einstein, bila memang tak paham; karena di sekitar kita banyak contoh yang menunjukkan bahwa waktu memang relatif. Bagi seorang pedagang serabi di kampung saya, sehari untung 50 ribu pastilah luar biasa; kalau tidak mau dikatakan sebagai hil yang mustahal. Tapi seorang bos perusahaan berskala internasional, tiap hari dapat hasil 3 juta barangkali belum seberapa. Bagi seorang koruptor, lain lagi cerita; hitung-hitungannya tak lagi pake digit juta, tapi trilyun. Pasti susah ya menghitungnya? Asal tahu saja, andai tiap satu hitungan kita memerlukan waktu satu detik, maka akan butuh waktu 31.668 tahun untuk sampai hitungan 1 trilyun. Barangkali hukuman paling berat bagi seorang koruptor adalah disuruh berhitung dari nol sampai angka korupsinya.
Nah, itu tadi bila patokannya ‘waktu adalah uang.’
Yang pasti, bagaimanapun kita memaknai arti waktu, ia sangatlah berharga. Apa lagi bila masalahnya adalah rindu, betapa yang sesaat menjadi begitu penting, andai bisa bertemu. Maka seorang pecinta akan berkata ‘meski hanya sekejap mata, aku ingin jumpa.’
Anehnya, manusia sering mengkambinghitamkan waktu atas kesalahan pribadinya. Bila ada orang tua sakit rindu terhadap anak-anaknya, waktulah yang menjadi alasan; anak-anaknya itu sibuk dengan urusan masing-masing. Bila ada anak-anak tak cukup mendapat kasih sayang dari orang tua mereka, waktu juga menjadi alasan; orang tua sibuk bekerja. Bila banyak pekerjaan rumah terbengkelai, waktu juga dituduh bersalah.
‘Tak ada waktu,’ kalimat yang biasa digunakan untuk berkilah. Padahal masalah sesungguhnya hanyalah keengganan, kelalain, ketidakseriusan, atau ketidakmampuan mengelola diri. Sebab itu banyak tugas tak terselesaikan, banyak kewajiban tak tertunaikan, banyak pihak yang membutuhkan terabaikan dan banyak kesempatan hilang ditelan waktu.
Kini sudah saatnya untuk jujur pada diri. Bila ada hal-hal yang tak mampu kita selesaikan dengan tuntas, jangan lagi salahkan waktu. Makhluk yang sangat berharga bernama waktu itu telah menjalani tugasnya dengan baik. Ia terus bergulir, tanpa mempercepat atau memperlambat lajunya. Apa lagi berhenti, tidak sama sekali. Manusialah yang lebih sering mengkhianatinya. Meski waktu tak lelah memberi kita kesempatan, manusia justru terlalu sering manjadikannya kambing hitam atas kelalaian sendiri. Maka mulai saat ini, berhentilah menyalahkan waktu!